Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Pengurus OPPQ Harus Tetap Menomorsatukan Belajar

Senin, 05 Maret 2012

Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Labek Banten, KH. Achmad Syatibi Hanbali berharap, Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Periode 2012-2013 yang baru dilantik tetap menomorsatukan kegiatan belajar mengajar.

“Pengurus OPPQ yang baru tidak berarti bebas menjalankan apapun di pesantren ini atau disibukkan oleh program-program kerjanya, sehingga tidak mau lagi belajar. Itu sebabnya, pengurus OPPQ yang baru tetap harus menomorsatukan pelajaran, baik pelajaran formal, pesantren maupun ekstrakurikuler. Semua itu jangan ditinggalkan.”

Demikian dinyatakan Kiai Ibing – sapaan akrab pengasuh – saat memberikan tausiah pada Malam Pelantikan Pengurus OPPQ Periode 2012-2013, di Lapangan Qothrotul Falah, Senin (5/3/2012) malam, yang juga disiarkan langsung oleh Radio Qi FM 107.70. Tampak hadir pula Kepala SMA Qothrotul Falah, Pembina Majelis Pembimbing Santri (MPS), pengasuhan santri, dewan guru dan seluruh santri baik putera maupun puteri.

Selain memberikan selamat kepada pengurus yang baru dan terima kasih kepada pengurus yang lama, Pengasuh yang baru terpilih menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak Periode 2012-2017 ini juga berharap, seluruh program kerja OPPQ bisa berjalan dengan baik dan lancar. “Semoga pengurus yang sekarang lebih baik dari yang sebelumnya. Ini bukan merendahkan pengurus sebelumnya. Yang namanya kebaikan itu harus terus bertambah. Walaupun yang sebelumnya sudah baik, namun yang sekarang harus lebih baik lagi, karena kebaikan itu tidak ada batasnya,” ujarnya.

“Semoga masing-masing bidang bisa menjalankan program-programnya dengan baik. Namun penting diingat, pengurus OPPQ tidak ada imbalan materi apapun. Yang akan kalian dapatkan hanyalah pengalaman dan ini penting bagi kehidupan kalian ke depan,” tambahnya.

Kiai Ibing berharap, kepengurusan ini dijadikan sebagai pelajaran kedewasaan. Misalnya, kata Kiai Ibing, untuk mengurus dan memperbaiki adik-adik kelasnya, maka harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. “Kalau ingin menjadikan mereka baik, kalian harus menjadi baik terlebih dahulu. Jangan sampai kalian menghukum adik-adik kelas yang nggak jamaah, ngaji, atau lainnya, sementara kalian sendiri tidak melakukannya dan bahkan malas-malasan,” himbaunya serius. “Kalau ingin ditaati bawahan, kita harus memulainya dari diri sendiri,” imbuhnya.

Pengasuh juga berharap, jika Pengurus OPPQ yang baru mengalami kendala dalam kepengurusannya, mereka harus segera berkomunikasi dengan para guru dan pembimbing. “Jika ada masalah jangan dipikul sendiri. Kita harus bergerak semua, karena pesantren ini milik semua dan semua bertanggungjawab atas kebaikan pesantren ini,” katanya.

Di akhir sambutannya, pengasuh menegaskan, maju atau mundurnya pesantren ini tergantung di pundak para penghuninya. “Janganlah kita malah menjadi bagian dari orang-orang yang merusak citra pesantren ini,” harapnya. “Itu sebabnya, semoga pesantren ini bisa rapi dan tidak acak-acakan. Pesantren ini bisa lebih baik dan besar lagi,” sambungnya.

Pada pelantikan kali ini, agenda yang diselenggarakan antara lain sambutan dari Ketua Panitia Pemilihan Ketua OPPQ Ahmad Turmudzi, Pembacaan SK Pengurus OPPQ oleh Ahmad Amrullah, Pelantikan oleh Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS) Aang Abdurohman SE, dan doa oleh Ahmad Hudaedy. Al-hamdulillah, agenda-demi agenda berjalan lancar.[enha]



Selengkapnya...

Pengasuh Terpilih Lagi Menjadi Ketua MUI Lebak

Sabtu, 03 Maret 2012

Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Cikulur Kab. Lebak Propinsi Banten, KH. Achmad Syatibi Hambali, kembali terpilih sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak untuk kedua kalinya. Pada Musyawarah Daerah (Musda) ke-8 yang diselenggarakan di Aula Multatuli Pemda Kab. Lebak, Kamis (1/3/2012), secara aklamasi Kiai Ibing – sapaan akrabnya – didaulat untuk menahkodai MUI Lebak Periode 2012-2017.

Pada Musda kali ini, hadir Bupati Lebak H. Mulyadi Jayabaya, Ketua MUI Propinsi Banten Prof. DR. AM Romli, dan para pejabat pemerintahan di lingkungan Kab. Lebak. Juga tampak tokoh-tokoh agama di lingkungan Kab. Lebak.

Menanggapi keterpilihannya ini, Kiai Ibing menyatakan terima kasihnya atas dukungan para peserta. “Saya ucapkan terima kasih kepada para alim ulama yang telah memercayai saya untuk kembali memimpin MUI lima tahun ke depan,” ujarnya di hadapan para peserta Musda.

Dalam sambutan perdananya, Kiai Ibing mengakui, tantangan MUI ke depan lebih berat lagi. “Karena itu, MUI Kab. Lebak akan terus melakukan komunikasi aktif dengan pengurus MUI tingkat kecamatan, sehingga setiap ada persoalan di tengah masyarakat yang berkaitan dengan tugas MUI dapat cepat diselesaikan,” ujarnya.

Kiai Ibing juga menyatakan, roda kemimpinan MUI dijalankan sesuai arahan dan petunjuk MUI Propinsi dan Bupati Kab. Lebak. “Sesuai petunjuk dan arahan dari Pak Bupati dan Ketua MUI Banten, kami akan agendakan dialog langsung dengan umat di tingkat kecamatan setiap satu minggu sekali,” ujarnya seperti dikutip Koran Radar Banten, Jum’at (2/3/2012).

Menanggapi keterpilihan ini, keluarga Pondok Pesantren Qothrotul Falah tentu saja menyambut gembira. Ini menunjukkan pimpinan mereka dipercayai oleh alim ulama. Namun demikian, kegembiraan ini harus diseimbangi usaha keras oleh semua pihak untuk membantunya, sehingga semua tugas-tugas beliau terlaksana dengan sebaik-baiknya.

Semoga bisa menjaga amanah, Kiai![enha]





Selengkapnya...

LMO untuk Perkuat Manajemen Kepemimpinan

Kamis, 01 Maret 2012

Selama tiga hari, Senin-Rabu, 27-29 Februari 2012, Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Cikulur Lebak Banten Periode 2012-2013 menyelenggarakan Latihan Manajemen Organisasi (LMO), di Lantai II Gedung Baru SMA Qothrotul Falah. Pesertanya khusus siswa-siswi Kelas XI SMA Qohtorotul Falah yang juga pengurus baru OPPQ.

“Kegiatan ini diniatkan untuk menguatkan manajemen kepemimpinan pengurus OPPQ periode 2012-2013, karena kita kan masih sangat belia, sehingga perlu banyak belajar tentang kepemimpinan dari para guru di pesantren ini,” kata Ketua OPPQ Putera, Faiz Apipi tentang kegiatan ini.

Hal serupa disampaikan Ketua OPPQ Puteri, Puput Nadhifah. Menurutnya, pengurus OPPQ yang baru relative belum memiliki pengalaman apapun tentang kepemimpinan atau menangani santri. “Itu sebabnya, kegiatan ini menjadi tambahan bekal bagi kami untuk menjadi pemimpin yang benar-benar mampu menjadi teladan,” ujarnya.

Bagi keduanya, kepemimpinan adalah tugas tak ringan yang karenanya tidak bisa dianggap main-main. Skill dan kapabilitas kepemimpinan penting untuk terus ditingkatkan, sehingga akan muncul pemimpin yang benar-benar layak. “Dengan pelatihan ini, setidaknya kita serius berupaya menjadi pengurus yang terbaik,” kata Faiz.

Lantas, apa saja tema yang diusung dalam kegiatan ini? Menurut Faiz, diantara tema yang menjadi fokus kegiatan ini, adalah, Pemimpin sebagai Pelayan Umat dengan pemateri Nurul H. Maarif, Manajemen Organisasi (Ahmad Turmudzi), Pemimpin sebagai Teladan (Aang Abdurohman), Relasi antara Pemimpin dan Yang Dipimpin (Ahmad Amrullah), dan sebagainya.

Harapan dari penyampaian-penyampaian materi ini, pengurus baru OPPQ akan mendapatkan bekal yang cukup untuk modal kepengurusannya selama setahun ke depan, sehingga mereka akan menjadi pribadi baru yang layak diteladani. “Insya Allah, asal kita mau capek, kita akan menjadi pemimpin yang baik,” tambah Puput.

Menanggapi kegiatan ini, Koordinator Majelis Pembimbing Santi (MPS) Ustadz Aang Abdurohman menyatakan kesetujuannya. “Ini kegiatan yang positif dan harus didukung semua pihak, baik santri maupun guru-guru. Insya Allah banyak manfaat yang akan didapatkan,” ujar Putera Pertama Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini. “Dan ini tradisi tahunan bagi setiap pengurus baru,” imbuhnya.

Oke, semoga niatan ini tercapai dan kalian benar-benar menjadi pemimpin yang terdepan dan sukses dalam segala agendanya. Amin! [enha]




Selengkapnya...

Faiz dan Uput Nahkodai OPPQ 2012-2013

Senin, 27 Februari 2012

Dua santri asli Sarian Koncang Cikulur Lebak Banten, Faiz Apipi dan Puput Nadhifah akhirnya terpilih sebagai Ketua Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Putera-Puteri Periode 2012-2013, pada pemilihan yang berlangsung seru, Ahad (26/2/2012) sore, di Majelis Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Keduanya berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan perolehan suara cukup telak. Misalnya, untuk Ketua OPPQ Putera, Faiz Apipi berhasil mengumpulkan suara hingga 81,7 %, diikuti Ikrom Khotami 12,5 % dan TB Didin Saiful Ali 5,6 %. Sedangkan untuk Ketua OPPQ Puteri, Puput Nadhifah berhasil meraih 55,3 %, diikuti Eva Nur Khofifah 26,4 %, dan Siti Komariah 18,2 %. Suara-suara yang diperebutkan merupakan gabungan dari suara santri, dewan guru dan keluarga besar pesantren.

Keterpilihan keduanya melalui proses panjang, sejak penjaringan secara ketat oleh tim pemilihan Ketua OPPQ Periode 2012-2013, uji kelayakan melalui berbagai test, debat kandidat yang disiarkan langsung oleh Radio Qi FM, dan sebagainya. Setelah melalui perjalanan panjang itu, di tengah guyuran hujan, keduanya berhasil dinobatkan sebagai nahkoda baru OPPQ Periode 2012-2013 menggantikan Muhammad Bahri dan Nani Najihah.

Dalam sambutan kemenangannya, Faiz Apipi yang merupakan puteri KH. Sohib ini membukanya dengan mengutip Hadis Nabi Muhammad SAW, “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatih/tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. “Perasaan saya panas dingin,” katanya. “Ini musibah dan berat bagi saya, karena setahun ke depan harus mengemban amanah yang berat,” imbuh Siswa Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah ini.

Namun demikian, ia menerima penuh kepercayaan para pendukungnya ini. “Saya sudah terpilih. Terima kasih banyak. Kalau saya benar, maka ikutilah saya. Kalau saya salah atau melanggar ketentuan yang ada, saya akan siap diberhentikan sebagai ketua OPPQ dan akan digantikan oleh yang lebih layak,” ujarnya seakan menirukan pidato kemenangan Abu Bakar al-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Usman bin Affan maupun Ali bin Abi Thalib. “Ini tak lain karena saya jauh dari kesempurnaan,” ujarnya rendah hati.

Puput Nadhidah, dalam sambutan kemenangannya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendukungnya. “Saya berharap dua calon yang kalah turut membantu dan mendukung kepengurusan yang terpilih,” pinta puteri kelima Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah KH. Achmad Syatibi Hanbali ini.

Puput yang juga Siswa Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah ini berharap, kepengurusan OPPQ periode 2012-2013 lebih baik lagi dibanding sebelumnya. “Mudah-mudahan saya bisa menjadi pemimpin yang amanah, adil, jujur, dan suri tauladan yang baik, sehingga bisa membawa Pondok Pesantren Qothrotul Falah lebih baik lagi,” kata Ketua OPPQ terpilih yang terkenal dengan jargon “inner beauty”-nya ini.

Okelah, para Ketua OPPQ yang baru, selamat bekerja mewujudkan impian kalian membawa QF menjadi lebih baik. Semoga kalian kian dewasa dan bijaksana.[enha]



Selengkapnya...

OPPQ Awards Lancar, Dewan Guru Ngeliwet

Penyelenggaraan Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah Awards atau OPPQ Awards berlangsung lancar dan meriah, Kamis (23/2/2012) malam. Dihadiri segenap dewan guru dan santri, kegiatan yang dihelat sejak pukul 20.30 ini berlangsung hingga dini hari pukul 01.30.

“al-Hamdulillah, semuanya berjalan lancar. Nggak nyangka. Semua dihandel anak-anak dan hasilnya bagus sekali,” ujar Ustadz Ahmad Turmudzi, yang menjadi penanggungjawab kegiatan tahunan ini.

OPPQ Awards merupakan ajang senang-senang atau tepatnya refreshing bagi para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang telah setahun menjalani kegiatan di pesantren. Secara khusus, kegiatan tahunan yang dihelat jelang suksesi Kepengurusan OPPQ ini diisi dengan penilaian-penilaiaan terhadap kepribadian santri dan pengurus OPPQ. M

isalnya, ada santri yang dinobatkan sebagai termalas, terbaik, tersolek, tercuek, terteladan, tersopan, terganteng, terwangi, termalas mandi, terajin belajar, tersering tidur, dan sebagainya.

Demikian juga untuk pengurusnya. Ada yang dinobatkan sebagai yang terrajin, terdisiplin, terjutek, tergalak, dan seterusnya. Itu sebabnya, hingga larut malam sekalipun, kegiatan yang dihelat menggunakan lighting menawan dan diiringi slight menggunakan infokus plus power point ini ramai hingga usai. Apalagi ditambahi gantungan medali berisi snack untuk peserta yang mendapat predikat “ter”. Tambah ramai saja dan nggak bikin ngantuk.

Dalam sambutan singkatnya, Kang Enha menyatakan, OPPQ Award ibarat malam perhitungan amal (yaum al-hisab). Apapun yang dilakukan santri selama di pesantren, akan dicatat oleh tim dan akan diumumkan hasilnya di malam ini.

“Ini ibarat hari perhitungan. Yang baik akan kecatat dan yang buruk akan tertulis. Tentu kegiatan ini bukan untuk menghinakan yang buruk, melainkan untuk mengambil hikmahnya dan untuk perubahan bagi yang bersangkutan dan santri-santri lainnya,” ujarnya. “Insya Allah ini positif, asal niatnya bukan menghinakan,” sambungnya.

Usai perhelatan OPPQ Awards, paginya para Dewan Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah menyelenggarakan ngeliwet bersama. Lauknya? Mantap! Ada ayam kampung, belut, ikan asin, dan yang paling penting tentu saja jengkol lado. Ditambah sambel yang mak nyus, suasan ngeliwet jelang shalat Jum’at itu kian gayeng saja.

“Coba setiap Jum’at kita ngeliwet, pasti mantap,” ujar seorang guru berkelakar.[enha]



Selengkapnya...

Soccer for Peace in Pesantrens Berdampak Positif Bagi Santri

Training of Trainer (TOR) “Soccer for Peace in Pesantrens” untuk guru-guru olah raga SMP/MTS/SMA/SMK Kec. Cikulur yang dihelat selama tiga hari, Selasa-Kamis (21-23/2/2012) berlangsung semangat. Para guru yang hadir tampak tiada bosan-bosannya mengikuti materi yang disajikan. Ditambah praktik lapangan yang mengasikkan, mereka kian bersemangat saja.

“Saya senang penyelenggaraan TOT ini. Apalagi saya baru kali ini ikut serta kegiatan kayak begini. Tidak menjemukan dan bikin semangat. Trainernya bagus-bagus dan bisa membawa stabilitas semangat kita. Walaupun tiga hari, di ruangan dan di luar ruangan, suasananya tetap semangat,” ujar Guru Olah Raga SMAN 1 Cikulur, Wardoyo, yang menjadi peserta paling senior.

Seperti diketahui, bekerjasama dengan Search for Common Ground (SFCG), Asian Soccer Academy (SFCG), dan Pondok Pesantren Qothrotul Falah, kegiatan yang diselenggarakan di tiga tempat, Pondok Baca Qi Falah, lapangan Futsal Qi Ibing dan Lapangan Simpati ini diniatkan untuk tujuan resolusi konflik melalui sepak bola. “Sekaligus untuk mencari bakat-bakat terpendam pesepak bola. Sebenarnya banyak yang berbakat, cuma nggak terpantau,” ujar Abdul Aziz, tim coaching dari ASA.

Di hari pertama, TOT diisi dengan perkenalan sesama peserta, game-game, dan materi resolusi konflik. Juga dilakukan praktik main bola di lapangan yang disisipi nilai-nilai filosofis sepak bola; kerja sama, keuletan, tanggungjawab, focus gol, dan sebagainya. Sore harinya, dilakukan praktik coaching bersama para santri. Kegiatan lantas ditutup secara resmi Kamis siang, 23/2/2012, dengan pemberian cendera mata oleh SFCG kepada Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Rencanananya, sebagai tindak lanjut kegiatan ini, pada April 2012 akan diselenggarakan turnamen mini antara tim binaan peserta TOT. Akan didampingi pihak SFCG dan ASA, kegiatan ini sekalian diniatkan untuk mencari bakat pesepak bola.

“Jika ada yang bagus, nanti akan kita ajak ke Jakarta untuk dibina oleh ASA. Jika mampu bersaing dengan anak-anak binaan ASA lainnya, termasuk yang dari luar negeri, maka bisa kita rekomendasikan ke Liga Inggris,” ujar Aziz di depan para santri dan tim lainnya, di Lapangan Simpati, disambut tepuk tangan.

Tak diduga, kegiatan ini ternyata juga direspon positif baik oleh santri maupun guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Buktinya, baru sehari paska penyelenggaraan TOT ini, mereka sudah punya rencana-rencana jangka panjang terkait sepak bola untuk resolusi konflik.

Pertama, bulan Mei 2012, pihak pesantren rencananya akan menyelenggarakan Turnamen Futsal antara SD/MTs/SMP Kec. Cikulur dan sekitarnya. Kegiatan akan diselanggarakan di Lapangan Futsal Qi Ibing. “Kita akan mencoba mencari sponsor-sponsor yang konsen dengan olah raga dan pengembangan bakat,” ujar Liandi Kaputera, penanggungjawab olah raga pesantren.

Kedua, dalam waktu dekat akan dibuat lapangan sepak bola untuk santri. Al-hamdulillah, pesantren telah memiliki tanah kosong yang cukup luas, yang tidak termanfaatkan secara maksimal. “Ini cukup luas. Tinggal kita rapikan. Insya Allah dampaknya akan sangat positif bagi para santri dan masyarakat,” ujar Mang Udong, saat memantau lokasi bakal lapangan.

Inilah bentuk positif lanjutan penyelenggaran TOT ini. Okelah kawan-kawan, insya Allah kebersamaan kita akan menjadikan pesantren tercinta ini maju dan kian ramai. Yuk kita terus bekerja untuk kemanfaatan orang banyak.[enha]
Selengkapnya...

“Belajar Yang Rajin!,” Kata Bule Kampung

Setelah menghadirkan aktivis Search for Commond Ground (SFCG) yang pernah menuntut ilmu S2 di Belanda, Hijroatul Maghfiroh, Radio Komunitas Pondok Pesantren Qothrotul Falah Qi FM 107.7 kembali menghadirkan aktivis SFCG lainnya, yakni Zeva Aulia Sudana. Kali ini, bincang santai dengan wanita asal Bandung yang sudah melanglang buana ke berbagai negara ini diselenggarakan Selasa (21/2/2012) ba’da ashar hingga jelang maghrib, ditemani host Amwa dan Toni (siswa Kelas XII IPS dan IPA).

Dalam bincang santai itu, Zeva yang enam tahun tinggal di Melbourne Australia banyak bercerita pengalamannya berkeliling manca negara untuk program pertukaran pelajar atau pendidikan lainnya. Misalnya, ke Jerman, Amerika, dan sebagainya. Termasuk juga ke Taiwan. Dikatakan wanita berkerudung ini, sesungguhnya banyak kesempatan bagi siapapun untuk ke luar negeri melalui program beasiswa.

“al-Hamdulillah, saya termasuk yang berkesempatan. Dan saya percaya, semua anak memiliki potensi. Potensi ini harus diasah dan harus berani bersaing. Jika nggak mau bersaing, maka akan kalah dari awal,” ujar Sarjana dari Universitas Katolik Parahiyangan ini. “Universitas ini nggak ngajarin agama lho. Ini hanyalah yayasan,” sergahnya buru-buru tentang universitasnya.

Menurut Zeva, yang oleh rekan-rekannya dijuluki Bule Kampung karena lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang Sunda ini, yang terpenting dimiliki adalah rasa percaya diri alias PD. “Bisa nggak bisa yang penting PD dulu. Harus maksimalkan diri,” pesannya menyemangati.

Bagaimana mendapatkan informasi sekolah geratis di luar negeri? Dikatakan Zeva, kita harus rajin-rajin googling di dunia maya. Banyak informasi yang bisa didapat di sana. Selain itu, ujar wanita yang gemar jeprat-jepret kamera ini, silaturahim dengan berbagai pihak juga penting dijalani untuk menggali berbagai informasi itu.

“Saling memberi info satu sama lain, itu penting sekali. Jangan pelit informasi. Karena seringkali, rejeki datang dari pintu silaturahim,” katanya.

Bagi Zeva, pendidikan sangat penting karena ia mampu mengubah keadaan. Tidak hanya kita yang berubah, tapi juga masyarakat. “Kalau lahir miskin itu biasa. Tapi salah kita kalau mati juga miskin. Setidaknya kaya hati dan pendidikan,” katanya mengutip status face book rekan jejaring sosialnya.

“Makanya belajar yang rajin!,” ujar Bule Kampung ini.

Terkait kehadirannya di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten untuk Program Soccer for Peace in Pesantrens bersama Asian Sport Academy (ASA), Zeva mengungkapkan kegembiraannya. “Seneng banget ke pesantren, karena terakhir saya ke pesantren 8 tahun lalu. Santri-santri di sini gaul, keren dan asyik-asyik. Ada Radio Komunitas Qi FM lagi,” katanya.[enha]

Selengkapnya...

Sepak Bola Mengubah Konflik Negatif Jadi Positif

Oleh sebagian orang, sepak bola acap kali hanya dipandang sebagai olah raga fisik biasa, yang tak lebih sebagai ajang kompetisi untuk mengegolkan bola ke gawang lawan. Namun oleh yang lain, sepak bola dilihat secara arif untuk menemukan filosofi positif yang tersembunyi di sebaliknya.

“Sepak bola secara efektif bisa digunakan sebagai media untuk mempromosikan toleransi dan keramahan. Ada yang jadi penjaga gawang, striker, juga bek, semua harus bekerjasama dan menjalankan perannya dengan baik.”

Demikian disampaikan Project Officer (PO) O Soccer for Peace in Pesantrens, Hijroatul Maghfiroh, dalam acara bincang santai bersama DJ Efan’d di Radio Qi FM, Senin (20/2/2011) malam. Ditemani Zeva (Common Ground) dan Damar (KBR 68 H), Firoh – sapaan akrab Hijroatul Maghfiroh – membawa misi dari Search for Common Ground (SFCG) menyebarkan perdamaian melalui sepak bola lewat Program Soccer for Peace.

Dikatakan Firoh, yang pernah mukim di Belanda selama 1,5 tahun ini, setting pelatihan resolusi konflik ini sengaja tidak menggunakan media seminar atau diskusi. “Seminar atau diskusi akan sekali pakai dan tidak ada kelanjutannya. Ini berbeda dengan sepak bola, yang diyakini akan tahan lama, karena semua orang mencintainya,” ujarnya.

Dalam sepak bola, katanya, ada persamaan yang bisa digali. “Semua orang suka sepak bola. Baik suku Jawa-Sunda, konglomerat-melarat, tua-muda, juga lelaki-perempuan tanpa pandang jenis kelaminnya. Ini menunjukkan ada kesamaan di sana, yaitu cinta,” katanya.

Inilah sebabnya, Firoh beralasan, sepak bola layak dijadikan sebagai media penyebaran paham kedamaian di kalangan masyarakat yang berbeda-beda latar belakangnya. “Dengan sepak bola, kita berharap bisa mengubah konflik negatif menjadi konflik positif,” harapnya. “Promosi toleransi melalui sepak bola juga akan mudah kena dan bisa dipraktikkan,” imbuhnya.

Misalnya, Firoh mencontohkan, di dalam sepak bola, setiap pemain memiliki tugas dan tanggungjawab sendiri-sendiri. Ada bek, striker, sayap, penjaga gawang dan sebagainya. “Bek harus menahan nafsunya untuk mencetak gol, karena itu tugas striker. Kalau bek meninggalkan posnya karena nafsu mencetak gol, maka pertahanan akan berlubang dan bisa berbahaya. Inilah letak kerja sama timnya. Dan seharusnya antar manusia yang satu dengan yang lain juga demikian,” ujarnya.

Melihat konflik yang banyak terjadi di negeri ini, Firoh menyatakan, konflik itu sesungguhnya ada yang negatif dan ada yang positif. “Yang negatif bisa diubah jadi positif. Yang destruktif bisa diubah jadi konstruktif. Dan itu bisa ditemukan dalam perbedaan yang ada. Perdamaian adalah proses, yang tak mudah diwujudkan. Namun kita harus terus mengupayakannya,” pintanya wanita asli Brebes Jawa Tengah ini semangat.

“Kenapa pesantren yang dipilih sebagai partner?” tanya Kang Efan’d menggoda. Dalam jawabannya, Firoh menyatakan, dipilihnya pesantren sebagai partner tentu saja bukan lantaran banyak konflik terjadi di pesantren. “Pesantren itu berisi manusia yang berkualitas. Para santri itu calon pemimpin dan panutan masyarakat. Nilai perdamaian akan sangat efektif jika diketahui oleh mereka, karena kelak mereka akan jadi rujukan masyarakat,” katanya beralasan.

Untuk diketahui, bekerjasama dengan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, SFCG bersama Asian Soccer Academy (ASA), selama tiga hari, Selasa-Kamis (21-23/2/2012), mengadakan Training of Trainer (TOR) Soccer for Peace in Pesantrens bertempat di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.

Peserta TOT yang juga diselenggarakan di sepuluh pesantren Indonesia ini adalah guru-guru olah raga dari sekolah-sekolah di sekitar Kec. Cikulur. Misalnya, SMAN 1 Cikulur, SMK Bina Bangsa, SMPN 1 Cikulur, MTs Nurul Athfal, SMPN 2 Cikulur, dan banyak lagi. Adapun tujuan kegiatan tiga hari ini adalah untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi dalam sepak bola, menguatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai prinsip-prinsip penyelesaian konflik tanpa kekerasan.[enha]
Selengkapnya...

Program Siaran Radio Qi FM Terus Dimatangkan

Minggu, 12 Februari 2012

Ditemani rekan-rekan “brutal” dari Jakarta dan Bandung, Suraji (SFCG), Adi (JRK Jabar), Dani (Radio PASS Bandung) dan Roni (Radio Cibangkong Bandung), kru Radio Qi FM tampak serius memusyawarahkan program siaran Radio Komunitas Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten. Bertempat di Pondok Baca Qi Falah, Rabu (8/2/2012) sore, rapat berlangsung semangat, karena seluruh kru menyambut positif agenda ini.

Dalam uraiannya yang panjang sebelum musyawarah program, Mas Adi banyak mengulas perihal etika dan persiapan bagi seorang penyiar radio. Dari soal pernafasan, mental, cara bicara, diksi, dan sebagainya. “Mental harus kuat. Saya melihat, SDM rekan-rekan di sini cukup baik. Tinggal ditingkatkan terus, hingga maksimal,” ujarnya.

Usai gambaran Mas Adi, dinotulensi Agus F. Awaluddin, musyawarah mulai menukik pada pemetaan wilayah jangkauan penyiaran, stratifikasi sosial dan aktivitas masyarakat, kebutuhan informasi, dan kesukaan lagu-lagu mereka. Lantas dilanjut dengan penentuan program yang pas untuk mereka, dengan iringan lagu yang juga sesuai kondisinya, plus waktu penyiarannya.

“Pokoknya kita diajarain banyak hal. Penentuan program menjadi lebih mudah, setelah dilakukakn pemetaan sedemikian rupa,” ujar Kang Agus, sapaan akrabnya sebagai penyiar tampak sumringah.

Diharapkan, dengan pemetaan segala hal yang terkait dengan kebutuhan masyarakat, maka keberadaan Radio Qi FM akan kian terasakan manfaatnya, yakni bersiaran sesuai kebutuhan riil yang ada. “Ini yang penting dicapai. Jangan sampai siaran tapi sepi manfaat,” ujar Ahmad Turmudzi, pengurus lainnya.

Karena bimbingan Mas Adi dkk belum tuntas, masih perlu pematangan kembali, maka gambaran pemetaan itu akan dimatangkan secara internal oleh pengurus Radio Qi FM. Insya Allah, dalam minggu-minggu ini, program-program itu telah matang dan siap disajikan secara lebih gurih kepada masyarakat. “Siaran saat ini masih sporadis, karena masih terus dilakukan pematangan program siaran,” ujar Ketua Radio Qi FM, Eneng Atikoh yang biasa dipanggil Miss Neng.

Oke kawan, semoga keberadaan radio kebanggaan warga Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Yuk, kita bangun bersama radio ini.[enha]



Selengkapnya...


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP