Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Adu Argumen Saat Diskusi “Sopan Santun pada Buku”

Jumat, 23 Maret 2012

Kelas X SMA Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten memiliki agenda rutin setiap Jum’at sore ba’da Ashar, yakni diskusi tematik. Bertempat di Pondok Baca Qi Falah, diskusi Jum’at (23/3/2012) kali ini mengangkat tema “Sopan Santun pada Buku”. Penyampai materi adalah Syahrul Ramdan, Yenny Khairunnisa, M. Aluthfi, dan A. Husaini.

Dalam diskusi kali ini, mereka dibimbing oleh Koordinator Pondok Baca Qi Falah, Ahmad Turmudzi dan Pengelola www.qothrotulfalah.com, Nurul H. Maarif. Diskusi yang dilengkapi makalah ini berlangsung ramai, dan sesekali terlihat adu argumen antar peserta.

Dalam paparannya, Syahrul Ramdan menjelaskan pentingnya menghargai buku sebagai sumber pengetahuan. Buku apapun, karena isinya ilmu pengetahuan, maka sudah selayaknya dimuliakan. “Karenanya, kita harus punya sopan santun pada buku. Buku tidak boleh disia-siakan dan dihinakan,” ujarnya.

Bentuk sopan santun pada buku itu, papar Syahrul yang juga Ketua Forum Diskusi Jum’atan Kelas X SMA Qothrotul Falah ini, adalah tidak melipat buku sembarangan, menaruhnya di tempat yang layak, tidak membiarkannya tergeletak di lantai, membaca isinya dengan penuh kekhusyuan dan seterusnya.

Diantara yang memantik debat serius, adalah pernyataan Syahrul bahwa buku tidak seharusnya dicorat-coret sebagai bentuk penghargaan atas kemuliaannya. “Bagaimana dengan Kitab Awamil, yang oleh ustadz-ustadz kita malah disuruh mencoretnya? Dan ini telah menjadi tradisi pesantren,” ujar Muh. Luthfi memprotes keras. Luthfi beranggapan, pernyataan Syahrul bertentangan dengan tradisi mencoret yang telah lama berlangsung di pesantren.

“Itu lain konteknya. Kalau Kitab Awamil memang harus dicoret, namun bukan dicorat-coret. Nyoret di sini maksudnya memberikan arti pada lafal-lafal yang kita tidak tahu maknanya. Ini malah bagus dan penting. Mencoret yang dilarang itu yang berakibat merusak buku,” ujarnya berargumen, kendati masih belum bisa diterima oleh Luthfi. Diskusipun berjalan kian hangat saja, dan sesekali diiringi tawa dan tepuk tangan peserta lainnya.

Di akhir diskusi, Ahmad Turmudzi memberikan masukan tentang jalannya diskusi. Dikatakannya, diskusi kali ini mulai tampak lebih hidup dan lebih maju disbanding sebelumnya. “Namun saya harap, yang belum pernah bicara, Jum’at depan harus mulai berani bicara. Tidak boleh malu-malu dan harus mulai berlatih mental. Saya yakin semua bisa,” katanya memotivasi. “Bacaannya pun harus diperkuat dan diperbanyak lagi, sehingga argumen yang disampaikan lebih berbobot,” imbuhnya.

Terkait isi diskusi, UT – sapaan akrabnya – menyatakan, ada sopan santun lain yang justru lebih penting dijunjung tinggi terkait penghormatan pada buku, yakni membacanya. UT lantas mengutip Joseph Brodsky, pemenang Nobel Sastra tahun 79, yang menyatakan bahwa “ada kejahatan yang lebih parah ketimbang membakar buku, yaitu tidak membaca buku.”

Terkait mencoret buku atau kitab, UT mengutip pernyataan KH. Abdul Hanan Ma’shum (Pengasuh Pondok Pesantren Fathul Ulum Kewagean Kediri Jawa Timur). Kiai yang sufi ini menyatakan: “Terangnya kitab, gelapnya hati. Gelapnya kitab, terangnya hati.”

“Nyoret itu ada konteknya. Kalau nyoret kitab atau memaknainya, maka menurut KH. Hanan Ma’shum, jika kitab kita semakin banyak coretannya, maka semakin teranglah hati kita. Semakin terang kitab kita, yang bermakna kitab kita kosong, maka semakin gelaplah hati kita, karena kita tidak bisa memahami isinya jika kitab kita kosong,” ujarnya. “Karena itu, ya, tergantung sudut pandangnya,” imbuhnya.

Diskusi yang kian menghangat itupun harus dihentikan ketika jam dinding telah menunjukkan pukul 17.30, karena mereka harus segera memasuki majelis untuk mengikuti pengajian al-Qur’an. Oke anak-anak, good, good, dan good. Ayo dong, yang masih diam, tunjukkan bahwa kalian bisa! Mau kapan lagi, kalau tidak sekarang? [nuha]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP