Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Tausiah Mang Ubang
Melalui Ilmu, Allah Memuliakan Manusia

Selasa, 10 Maret 2009

PADA Sabtu (14/02/2009) sore, puluhan pengunjung Pondok Baca Qi Falah diberi tausiah keagamaan oleh santri dan ustadz senior Ponpes Qothrotul Falah, Ustadz Muhammad Subhan, dengan materi Kenapa Allah Memuliakan Bani Adam?

Dalam paparannya, Mang Ubang – sapaan akrab Ustadz Muhammad Subhan – menyatakan, berdasarkan ayat walaqad karramna bani adama (Qs. al-Isra’ ayat 70), maka umat Islam harus meyakini kemuliaan Bani Adam.

“Kita harus meyakini, bahwa Allah SWT telah sungguh-sungguh memuliakan Bani Adam,” ujar ahli penulisan kaligrafi yang tawadhu’ dan sederhana ini.
Menurut Mang Ubang, sesungguhnya banyak kesamaan antara manusia dengan binatang. Manusia punya kekuatan, binatangpun demikian. Manusia bisa berjalan, binatangpun demikian. Manusia bisa beranak, binatangpun demikian. Tapi, ada hal-hal spesifik yang hanya dipunyai manusia dan tidak dipunyai binatang. Apa itu?
Dengan menyitir kitab ‘Idhdhatun Nasyi’in, Mang Ubang lantas menguraikan ciri-ciri spesifik itu. Pertama, husn al-shurah (keelokan rupa). Manusia itu diciptakan dengan seelok-elok rupa dan sebaik-baik bentuk (ahsan taqwim), tak seperti binatang. Karenanya, manusia bisa berpenampilan necis dan selalu ingin tampil menarik. Ini berbeda dengan binatang yang cenderung sebaliknya.

Kedua, al-mazaj al-a’dal (keistimewaan keseimbangan). Dalam hidupnya, manusia senantiasa mementingkan keseimbangan. Tidak berat sebelah. Ketiga, i’tidal al-qamah (keseimbangan postur). Manusia itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Ini beda dengan binatang semisal Jerapah, gajah, katak, dan lainnya.

Keempat, al-‘aql (akal). Ini inti pokok pembeda antara manusia dengan binatang. Menurut Mang Ubang, dengan perangkat akal ini, manusia bisa memahami bahasa (al-ifham bi al-nuthq). Karenanya, para filosof menyatakan, al-insan hayawan al-nathiq (manusia adalah hewan yang dapat bercakap).

Dengan akal ini, sambung Mang Ubang, manusia juga bisa memahami isyarat-isyarat (al-ifham bi al-isyarah), bisa memahami teks (al-ifham bi al-khath) dan seterusnya. “Hal-hal ini tidak mungkin dilakukan oleh binatang, karena tidak memiliki akal. Inilah letak inti perbedaan antara manusia dengan binatang,” kata Mang Ubang.

Bahkan, sambungnya, akal inilah perangkat pokok orang beriman (al-mukmin) dalam proses pengabdian pada Allah SWT. Mengutip ungkapan hikmah, Mang Ubang menyatakan: li kulli syai’in alatun wa alat al-mu’min al-‘aql (setiap sesuatu punya perangkat dan perangkat orang mukmin adalah akal).

“Itulah pentingnya akal bagi manusia, terutama orang mukmin. Karena itu, kita harus memaksimalkan pemanfaatan anugerah akal ini, terutama untuk tujuan taqarrub ila Allah,” pesan Mang Ubang.

Bagi Mang Ubang, dengan akalnya pula, manusia bisa meraih ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Dan, katanya, ilmu inilah sesungguhnya yang membedakan manusia dengan binatang. ”Idz huwa mukhtashshun bi al-insaniyyah. Ilmu itulah ciri khas kemanusiaan. Dengan ilmu pula, manusia bisa menguasai bumi,” pungkasnya mengutip ucapan Syeikh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim.[nhm]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP