Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Wejangan Pengasuh: Mau Berhasil? Harus Capek!

Sabtu, 24 Juli 2010

Usai menjalani Masa Bimbingan Santri (MABIS) selama tiga hari, 15-17 Juli 2010, santri baru Pondok Pesantren Qothrotul Falah menerima wejangan dari Pengasuh, KH. Achmad Syatibi Hanbali, Ahad, 18/7/10 malam. Bertempat di Masjid Qothrotul Falah, pengasuh menyatakan, tidak ada ceritanya orang bisa sukses tanpa diawali usaha yang keras dan bahkan capek.

"Kalau ingin berhasil, ya harus capek. Nggak bias leha-leha. Saya bisa beginipun, karena dulunya capek," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak ini mencontohkan dirinya.

Beliau lantas bercerita panjang lebar perihal pengalaman "pahit"nya dalam mengejar keberhasilan. Misalnya, tatkala masih kanak-kanak dulu, beliau acapkali diguyur air kendi oleh orang tuanya, jika kedapatan bolos mengaji. "Saya pernah main Bebentengan dan nggak ngaji. Orang tua tahu dan saya diikat," kenangnya. "Itulah didikan orang tua. Keras memang. Tapi kalau tak begitu, entahlah jadi apa saya sekarang. Apalagi saya anak satu-satunya," imbuhnya.

Suatu ketika, teman-teman sebayanya telah banyak yang mengenakan jam tangan/arloji. Sebagai anak-anak, beliaupun ingin memilikinya. Keinginan itu lantas diutarakan pada orang tuanya. "Talar (hafalkan) dulu Jurumiah, baru saya belikan," ujarnya menirukan syarat yang diajukan orang tuanya.

Benar saja, demi mendapat impiannya, beliau lantas bersusah payah menghafal Jurumiah (kitab gramatika Bahasa Arab) siang malam, tiada mengenal lelah. Sesuai janjinya, usai berhasil menghafal Jurumiah, orang tuanya membelikan jam tangan. "Saya ingat, waktu itu dibelikan jam Kastel di Rangkas," kenangnya.

Begitu pula ketika ingin sepeda Singking, beliau disyaratkan menghafal hasyiah Kitab Rayadh al
Badiah. Lagi-lagi syarat ini dijalaninya siang malam. Bahkan hanya sedikit waktunya untuk istirahat. "Barangkali akhirnya orang tua saya kasihan juga, karena saya jarang tidur. Kuatir nggak sesuai kemampuan anaknya, karena dipaksakan. Akhirnya saya dibelikan sepeda bekas," tuturnya.

Pada akhirnya, setelah dewasa, kebiasaan capek menghafal itu menjadi tradisinya, kendati tanpa dijanjikan apapun. Dan, inilah yang mengantarkan beliau menjadi seperti sekarang ini. "Karena hal itulah, saya bisa punya kalian semua," katanya pada para santrinya. "Untuk itu, carilah ilmu dengan sungguh-sungguh. Ilmu itu akan menjaga kita. Beda dengan harta yang harus dijagain," sambungnya.

Di akhir tausiahnya, beliau berpesan empat hal. Pertama, santri harus yakin bahwa pesantren ini akan membawanya dari bengkok menuju lurus. Kedua, belajar dan action yang tekun dan sungguh-sungguh. Ketiga, antara santri yang satu dengan yang lain harus saling menasihati dalam kebenaran. Keempat, sabar dalam setiap proses yang dijalani. "Sabar itu kunci apapun yang diinginkan," pesannya. (nhm)

0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP