Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Koperasi Qi Falah
Upaya Mewujudkan Sentra Perekonomian Pesantren

Senin, 04 Oktober 2010

Pondok Pesantren Qothrotul Falah telah lama didirikan. Tak kurang 19 tahun ia telah eksis di dunia pendidikan dan pengajaran. Namun, hingga usianya yang cukup “senior” ini, masih banyak lini yang perlu diperbaiki, termasuk lini perekonomian yang seharusnya menjadi pusat gerak kehidupan pesantren. Idealnya, semakin lama pesantren menapaki sejarahnya, semakin matang pula lini perekonomiannya. Inilah yang penting direnungkan untuk dicarikan solusinya.

Itu sebabnya, beberapa aktivis Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yang “peduli” masa depan pesantren, seperti Ahmad Turmudzi, Abdurrahman “Domang”, Dede Saadah “Bunda”, Ahmad Fathoni, Ahmad Dimyati dan yang lain, tengah berupaya menghidupkan Koperasi Qi Falah, dengan topangan modal seadanya. Niatannya, atau lebih pas impiannya, koperasi ini akan disiapkan untuk menopang perekonomian pesantren (sebisanya) ke depan.

“Semoga, koperasi ini bisa menjadi cikal bakal wirausaha pesantren. Sehingga, lambat laun pesantren mampu menghidupi dirinya secara mandiri. Ini impiannya. Dan, saya kira tidak ada yang mustahil di dunia ini, atas ijin Allah SWT,” kata Ustadz Turmudzi. “Semoga juga wirausaha pesantren lainnya bisa tumbuh melalui koperasi ini,” imbuhnya.

Dikatakan mahasiswa STAI La Tansa yang tengah menyelengarakan PPL di Ponpes Manahijussadat ini, koperasi ini berawal dari keprihatinannya tentang kondisi fisik pesantren ke depan. Tiga, empat, lima, sepuluh tahun ke depan, tidak mustahil bangunan fisik pesantren akan mengalami pengeroposan di sana sini seiring usia. “Jika dari sekarang kita tidak memikirkan pembenahan dan solusinya, apa yang akan terjadi? Itu sebabnya, pesantren tidak seharusnya bergantung setiap saat pada donasi pihak lain, melainkan harus berupaya membuat sentra perekonomian yang akan menopang kehidupan pesantren,” tegasnya.

Karenanya, dengan semangat dan modal dana seadanya, langkah ke arah sana tetap harus diayunkan. Tidak ada kamus menyerah dengan keterbatasan yang ada. “Orang hebat adalah yang bisa lari kencang kendati kakinya dibelenggu,” katanya berfilosofi. Dengan keterbatasan yang ada, api semangat untuk meraih kemajuan tidak boleh kendor dan tetap harus menyala.

Kini, Koperasi Qi Falah, yang mulai beroperasi pada 23 September 2010, telah menapaki sejarahnya. Respon positif pun mulai muncul. Semoga, harapan mulia ini bisa terwujud dan bisa menjadikan pesantren kecintaan bersama ini kian maju dan kian bermanfaat buat banyak orang. Dan yang tak kalah penting, semoga pesantren ini bisa menggapai kemandiriannya. Amin! [nhm]

1 komentar:

Anonim mengatakan...

maantap athur...beasiswa bagi guru qf bisa dianggarkan dari wirausaha pesantren, kalau telah mulai sukses...


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP