Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Remaja GKI Pakis Raya Kunjungi PB Qi Falah
“Upaya Menghapus Prasangka Buruk”

Senin, 22 Juni 2009

SEKITAR 20 remaja GKI Pakis Raya Cengkareng Jakarta, berkunjung ke Pondok Baca (PB) Qi Falah di Jl. Sampay-Cileles Km. 5 Ds. Sumurbandung Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten, Sabtu, 13 Juni 2009. Mereka ingin sharing pengalaman keberagamaan dengan para santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Di PB Qi Falah, para remaja yang juga siswa-siswi SMP dan SMA itu disambut hangat oleh dewan asatidz dan para santri. Kedua ”kubu” yang berbeda latar belakang agama itupun tampak akrab tanpa prasangka apapun. Mereka berbaur satu sama lain, tanpa merisaukan ”perbedaan kulit”. Sikap seperti inilah yang mestinya ditunjukkan antar mereka yang berbeda.

”Ini untuk mencari pengalaman. Selama ini mereka tak pernah tahu apa itu pesantren. Saya menjamin, mereka tak punya pandangan dan niatan negatif,” ujar Ketua Rombongan, Nurkiana Simatupang, dalam sambutannya. ”Dan ini pengalaman suka, bukan duka,” sambungnya.

Mewakili PB Qi Falah, Agus F. Awaluddin yang juga Kepala PB Qi Falah menyatakan, pertemuan seperti ini sangat baik untuk dilestarikan. ”Ini untuk saling mengenal satu sama lain (li ta’arafu). Ini sangat baik,” terangnya. ”Dengan pertemuan ini, kita nggak akan salah paham dan ini bisa menghapus prasangka buruk satu sama lain,” imbuh mahasiswa STAI La Tansa Mashiro Lebak ini.

Menurut Agus, kita – kendati berbeda satu sama lain – tetap bernaung di negara yang satu, negara yang berasaskan Pancasila. ”Kita ini tidak hidup di negara Islam atau negara sekuler. Antara yang berbeda harus saling menghormati,” tegasnya. ”Dan kami ingin menjadi santri yang menghargai perbedaan dan menghormati sesama,” imbuhnya.

Mewakili pesantren, Aang Abdurrahman Syatibi menyatakan, semua agama mengajarkan kasih sayang. ”Tuhan itu disebut al-Rahman (Maha Kasih Sayang),” jelasnya. ”Kita ini semua bersaudara. Perbedaan nggak usah dikemukakan apalagi diperdebatkan, tapi cukup dihormati dan dihargai saja,” sambung alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini.

Menurut Gaban – sapaan akrab Aang Abdurrahman Syatibi – Islam mengajarkan kebersamaan dan tidak mengajarkan kebencian pada pihak lain yang berbeda. ”Hiduplah dengan sesama dan tidak boleh saling mencibir,” pesannya. ”Karenanya, Islam tidak pernah mengajarkan bunuh diri dengan menjadikan orang lain yang tak berdosa sebagai korban,” kritik putera pertama pengasuh ini, pada sekelompok umat Islam yang menjadikan bom bunuh diri sebagai alasan kesyahidan.

Sedang pembantu umum PB Qi Falah, Nurul H. Maarif, lebih banyak mengungkapkan ajaran Islam tentang etika menjamu tetamu. Menurutnya, pandangan atau doktrin asasi Islam terhadap non-muslim, telah banyak diungkapkan di berbagai ayat. Ada ayat lakum dinukum waliya din, la ikraha fi al-din, fa man sya’a falyukmin wa man sya’a falyakfur, dan banyak lagi. ”Ini sudah banyak dipaparkan. Karenanya, mendingan kita bicara etika Islam menjamu tetamu saja. Yang ringan-ringan lah,” ujarnya.

Ayah Nilna Dina Hanifa (3 tahun) ini lantas mengutip Hadis yang antara lain diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang mempercayai Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetamunya. Baginya, sabda ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap tetamu memiliki dua aspek, keimanan terhadap Allah SWT dan keimanan terhadap hari akhir. Konsekuensi terbaliknya, jika ada orang yang tidak memuliakan tetamunya, maka kepercayaannya pada Allah SWT dan hari akhir layak dipertanyakan. ”Dan jangan lupa, tetamu yang wajib kita hormati itu tak terbatas yang muslim, melainkan juga yang nonmuslim,” jelasnya.

Nurul lantas mengutip kiriman sms dari seorang habib di Jakarta. ”Jika nonmuslim bertamu ke rumahmu dengan niat baik, maka sambutlah dengan baik. Jika ia berniat tidak baik, maka usirlah dengan baik.” Ini menunjukkan, kepada siapapun, termasuk kepada orang yang bertamu dengan niat tidak baik sekalipun, sikap baik harus tetap ditampakkan. Karenanya, al-Qur’an mengajarkan, jika kita diberi penghormatan oleh orang lain, maka hormatilah ia dengan penghormatan yang lebih baik atau minimal yang sepadan. ”Faidza huyyitum bitahiyyatin fahayyu bi ahsana minha aw rudduha,” katanya mengutip ayat al-Qur’an.

Dikatakannya, dalam Hadis lain Rasulullah Saw mengklasifikasi tetangga menjadi tiga golongan. Pertama, tetangga yang memiliki satu hak. Mereka ini tetangga yang musyrik atau nonmuslim dan tidak memiliki darah kekeluargaan. Mereka hanya memiliki hak sebagai tetangga. Kedua, tetangga yang memiliki dua hak. Mereka ini tetangga yang beragama Islam. Mereka memiliki hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim.

Dan ketiga, tetangga yang memiliki tiga hak. Inilah tetangga yang paling tinggi haknya. Mereka ini tetangga yang beragama Islam sekaligus memiliki darah kekeluargaan. Mereka memiliki hak sebagai tetangga, muslim dan keluarga. (HR al-Bazzar dari Jabir bin Abdillah). ”Jadi jelas, nonmuslimpun harus kita hormati haknya sebagai tetangga dalam sebuah masyarakat,” jelas Nurul. ”Inilah kasih sayang,” imbuhnya.

Nurul lantas mengutip Hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal. Rasulullah Saw bersabda; al-Rahimuna yarhamuhum al-Rahman. Irhamu ahl al-ardhi yarhamkum ahl al-sama’ (Para penyayang akan disayangi Allah. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka kalian akan disayangi makhluk yang ada di langit). ”Ajaran kasih sayang seperti ini banyak kita temukan dalam doktrin agama-agama, apalagi di Kristen yang terkenal dengan konsep kasih-sayangnya,” terangnya.

Di penghujung perjumpaan yang langka ini, para remaja GKI Pakis Raya dan para santri lantas perphoto bersama. Bahkan para tetamu itu memberi cindera mata sebagai kenang-kenangan dan ratusan buku tulis untuk santri yang tak mampu. ”Jika dilihat, mudah-mudahan cindera mata ini mengingatkan bahwa kita pernah bertemu,” kata Nurkiana.

”Maaf ya, kami dari pesantren tak memberikan apa-apa. Snack seadanya. Makan juga dengan lauk seadanya. Kami hanya bisa menyuguhkan daun singkong disantan. Harapannya, jika melihat daun singkong, rekan-rekan dari Jakarta teringat bahwa kita pernah berjumpa,” seloroh Nurul sekenanya. Wa Allah a’lam.[nhm]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP