Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Dakwah Unik Gus Miek
"Mereka Juga Menginginkan Surga"

Selasa, 23 November 2010

KH. Hamim Djazuli, yang lebih akrab disapa Gus Miek, adalah sosok langka dari yang langka. Ia kiai, namun tak seperti kiai pada umumnya. Ia orang saleh, namun tak seperti orang saleh pada umumnya. Bahkan ia seorang wali, yang juga berbeda dengan wali pada umumnya.

Itulah yang tergambar dari buku Ajaran dan Perjalanan Gus Miek, yang ditulis oleh M. Nurul Ibad (LKiS, 2007). Pondok Baca Qi Falah, Jum’at (19/11/2010) membedah buku ini untuk menimba pelajaran yang bisa diserap para santri. Didaulat sebagai pembedah, Nurul H. Maarif, pembantu umum Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.

Diantara keunikan Gus Miek, putera KH. Djazuli Usman Ploso Kediri itu, cara dan wilayah dakwahnya yang tidak lumrah, yang tidak sesuai dengan atau malah menyeberang dari cara dan wilayah dakwah para kiai pada umumnya. Jika umumnya kiai-kiai berdakwah di pesantren, masjid atau majelis taklim, Gus Miek memilih dakwah di diskotek, bar, tempat pelacuran, tempat perjudian, gelanggang sabung ayam dan aneka tempat maksiat lainnya.

“Gus Miek memilih cara dan wilayah dakwah yang tidak populer, yang dianggap “najis” oleh kebanyakan orang. Ini berangkat dari prinsipnya; biarkan aku cemar di mata manusia, namun tenar di mata Allah SWT,” terang Nurul, menguraikan prinsip dakwah Gus Miek. Di hatinya, hanya Allah semata yang dituju.

Bagi Gus Miek, pendiri Dzikrul Ghafilin, Jamaah Semaan al-Qur’an Jantiko Mantab dan perancang Makam Para Wali Tambak ini, untuk tujuan mendapat ridha-Nya dan mengajak orang-orang tersesat kembali ke jalan-Nya, dirinya rela dihina dan dinegatifkan banyak orang, termasuk para kiai. Dihujatpun senang hati. Yang penting, mulia di hadapan Allah SWT.

“Itu sebabnya, ratusan kiai membencinya dan bahkan menganggapnya sesat, bid’ah dan bahkan dinilai mencemarkan kehormatan pesantren,” terang Nurul.

Berakrab dan bercengkerama dengan para pelaku maksiat, bagi Gus Miek, adalah jalan terbaik untuk mengajak mereka kembali ke jalan kebenaran. Jika para kiai enggan mendekati mereka, lantas siapa yang akan menuntun mereka? “Mereka – para pelacur, penjudi, peminum, penyabung ayam, dll – juga menginginkan surga. Tidak hanya kita yang ingin surga. Tapi, kiai mana yang berani?” ujar Nurul menirukan prinsip Gus Miek.

Di dalam buku ini diceritakan, Gus Miek senantiasa mengajak mad’u (obyek dakwah) nya untuk terus-menerus berupaya mendekat pada Allah SWT; siapapun mereka dan dari latar belakang apapun. Jika sulit mendekat pada-Nya, karena terhalang oleh dosa-dosa, maka kita harus mendekat pada orang-orang yang dekat dengan-Nya, yakni para wali Allah. Harapannya, kedekatan dengan para wali membuat kita dikenal-Nya. “Inilah, yang oleh Gus Miek disebut Jalan Terabas,” kata Nurul.

Selain itu, Gus Miek juga menganjurkan jamaahnya untuk gemar melek mbengi (tidak tidur malam hari) dan memperbanyak dzikiran. Dan, masih banyak lagi hal-hal lain yang sangat penting digali dari kehidupan beliau. Sebagian besarnya telah terangkum dalam tiga buku; Ajaran dan Perjalanan Gus Miek, Suluk Jalan Terabas dan Dawuh Gus Miek, yang seluruhnya ditulis M. Nurul Ibad.[nhm]


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP