Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Seri Kearifan Wong Cilik
BANYAK KIAI SENENG DUIT

Minggu, 28 November 2010

Oleh Nurul H. Maarif
(Pengelola Pondok Baca Qi Falah)

Seringkali, apa yang tampak dari luar tidak menunjukkan apa yang tersimpan di dalamnya. Permukaan bumi atau laut yang membentang luas, sama sekali tidak menunjukkan kekayaan yang terkandung di dalamnya; ikan, kerang, mutiara, barang tambang, dan seterusnya. Ini pula yang aku alami, pada Senin (22/11/2010), sekira pukul 20.00 s.d. 21.15 malam.

Kulihat, seorang lelaki bertubuh tambun, berperut gendut, tanpa mengenakan baju, tampak duduk santai malam itu, di trotoar sebuah pesantren Hadis, di Pisangan Barat Ciputat. Lalu lalang orang di hadapannya, tak mengganggunya dan tak membuatnya merasa risih. Itulah kecuekan lahiriah pria asal Pacitan Jawa Timur, bernama Yatimin ini.

Sejatinya, secara lahir, aku sudah mengenal lelaki yang secara formal-duniawi berprofesi sebagai satpam di Graha Hijau Legoso ini sejak 1998 silam, ketika aku mulai menimba kaweruh pada Kiai Duladi di pesantren Hadis itu. Perkenalan lahirku dengannya, ternyata tak mengungkapkan kedalaman apapun.

Tepat pada malam Senin itu, batinku tergugah lantaran aku melihat sosok Yatimin yang berbeda sama sekali. Bicaranya spiritualitas, tema yang tak terbayangkan sejak 12 tahun perkenalanku dengannya. Itulah yang aku maksud; tampilan lahir tak selamanya menunjukkan kedalaman isi.

Betul belaka kata Rasulullah SAW; al-dhahir yadullu ‘ala al-bathin wa Allah yatawalla al-sarair. Yang lahir menunjukkan yang batin. Dan, Allah menguasai yang batin. Sabda ini, berlaku dan sesuai untuk orang pada umumnya atau orang ‘awam. Lumrahnya, tampilan fisik mereka mencerminkan batinnya.

Namun, insya Allah, sabda ini kurang pas untuk kekasih-kekasih Allah yang malamatiyah; para wali yang lebih senang menyaru sebagai orang biasa bahkan kadang hina. Ada yang menyaru jadi orang gila, (kalau tidak keliru termasuk) seperti Syeikh Abdul Kadir al-Jilani. Ada yang menyaru jadi pengemis, gelandangan, dan sebagainya. Tampilan lahir ini tentu saja tak mencerminkan kemuliaan batinnya.

Wa Allah a’lam, la ya’rif al-wali illa al-wali. Tidak ada yang mengetahui jati diri seorang wali, kecuali bangsa wali. Dan tentu saja, aku bukanlah wali yang mengetahui diri seorang wali. Aku hanya meraba-raba, apakah orang seperti Pak Yatimin, yang bertelanjang dada, itu wali Allah? Aku hanya merabanya dari pengalaman-pengalamannya, yang tak mungkin diceritakan orang kebanyakan dan bahkan bukan konsumsi umum.

Banyak hal menarik diungkapkannya malam itu. Petualangannya ketika muda, dengan rambut sepanjang bahu. Keluyurannya ke berbagai daerah di pelosok negeri ini. Pertemuannya dengan orang-orang saleh, yang acap disebut para wali. Cerita sepiritualnya terkait bencana jebolnya bendungan Situ Gintung, yang menelan ratusan korban. Juga, cerita perihal perkumpulannya dengan para wali di Krakatau Still, Istana Bogor, dan berbagai daerah lainnya.

Cerita pertemuannya dengan Ratu Kalinyamat, juga menarik. Pun, cerita perjumpaannya dengan Sunan Kali Jaga, di titik pertemuan tujuh sungai di Jawa Timur. Kala itu, Kanjeng Sunan konon mengenakan jubah putih, berjalan di atas air dan mewariskan sepucuk tongkat unik. Bisa dipanjangkan, dipendekkan, dan hanya muncul jika diinginkan. Tentu saja, cerita (yang sulit dikarang-karang orang biasa) ini bukan konsumsi umum, yang karenanya sayapun sulit memahami.

Saya jadi penasaran, dengan kisah-kisah uniknya ini, sesungguhnya orang bertelanjang dada yang ada di hadapanku ini siapa? “Njenengan (Bahasa Indonesia: Anda) ini keturunan siapa?” tanyaku mencari tahu. “Aku keturunan Sunan Pandanaran,” jawabnya mengagetkan. Siapa tak tahu Sunan Pandanaran, yang kini namanya dipakai untuk nama pesantren di daerah Sleman Yogyakarta asuhan KH. Muhammad Mu’tashim Billah? Oleh masyarakat, beliau dikenal sebagai orang saleh dan waliyullah.

Jika orang bertelanjang dada ini benar-benar keturunan sang wali, apa yang bisa kita katakan? Dia mereka-reka cerita? Kitapun tidak tahu persisnya. Dan yang terpenting, su’udhan tidak boleh terlontar dari diri kita. Bagiku, ukuran kebenaran itu apakah perkataannya mengajak pada Allah atau sebaliknya. Bagiku, perkataannya saat itu mengajakku menuju-Nya sebagai asa sejati.

Ia lantas bercerita perihal Pusaka Pisau di Mbayat, (yang konon) peninggalan Sunan Pandanaran. Menurutnya, selama ini tak seorangpun bisa mengangkat pisau itu. “Ketika aku angkat, yo iso dan ringan saja,” katanya. Lagi-lagi, cerita seperti ini juga sulit direka-reka orang seperti aku. Entahlah, siapa sesungguhnya yang ada di hadapanku.

Sudahlah, kita lupakan sejenak hal-hal unik (menurutku) yang ada pada kisah-kisahnya. Yang jelas, ada wejangannya yang penting dikenang. Lelaki ini berkali-kali menekankan urgensi kejujuran dalam kehidupan. Dalam kondisi apapun, kejujuran tidak boleh hilang. Inilah salah satu karakter kenabian. Jika karakter ini hilang, kepribadian manusia akan kering kerontang tiada bernilai.

Ia juga menyoroti beberapa kiai pesantren yang kehidupannya tidak lagi menampakkan ketawadhuan a la Kanjeng Nabi. Kini, katanya, tidak sedikit kiai yang lebih memilih berdekatan dengan kekuasaan dengan meninggalkan pesantrennya. Kini, banyak kiai yang telah mengenal uang, sebagai tujuan hidupnya. Apapun yang dikerjakannya, diukur dengan uang. Tak ada uang, tak ada pelayanan. “Kasihan umatnya,” ujarnya.

Tentu saja, yang dikatakan orang kecil (dalam pandangan manusia) ini benar belaka. Kiai, sosok penerus (waratsah) para nabi ini seharusnya istiqamah menunggui amanah di posnya, bukannya lebih gemar bepergian untuk kepentingan pribadi. Semoga saja, perkataan benar lelaki gendut ini menjadi cambuk bagi kita, sehingga kita lebih baik lagi menata hidup ini dan lebih peduli lagi pada kepentingan orang banyak.[]

Bogor, Ahad, 28 November 2010


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP