Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Tausiah Ustadz Gaban
Masyarakat Lebih Melihat Etika

Kamis, 30 April 2009

PENGAJIAN atau tausiah umum santri kali ini, Sabtu (18/4/2009) malam, diisi oleh Putera Pertama Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Ustadz Aang Abdurrahman S.E. Ini kali pertama beliau mengisi tausiah umum, setibanya dari nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur.

Dalam tausiahnya, Ustadz Gaban – sapaan akrab Ustadz Aang Abdurrahman – menyampaikan kandungan Kitab al-Ta’lim wa al-Muta’allim karya Syeikh al-Zarnuji. Menurut alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur ini, kitab ini menjelaskan perihal akhlak, etika, atau norma seorang santri dalam proses menuntut ilmu. Misalnya, bagaimana cara menghargai guru, membaca kitab dan sebagainya. “Di pesantren, yang paling utama dilihat masyarakat adalah ahklaknya,” terangnya.

“Mengapa orang tua kita memasukkan atau menyekolahkan anaknya ke pesantren, bukannya ke sekolah non pesantren?” tanyanya pada para santri.
Menurutnya, ini karena beberapa alasan mendasar. Pertama, orang tua ingin membina/memperbaiki akhlak anaknya. Kedua, agar anaknya bisa dan terlatih hidup mandiri. Ketiga, agar anaknya mendapat ilmu yang berguna bagi dirinya baik di dunia maupun di akhairat.

“Karena itu, orang yang dikatakan pintar sebenarnya adalah orang yang bisa menjaga hawa nafsunya, menjaga akhlaknya, dan juga mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Dan ini bisa dilakukan para santri,” ujarnya.

Misalnya juga, ketika menunaikan shalat, santri harus memakai tutup kepala atau peci dan berpakaian sopan. “Ini kan mau menghadap Pencipta. Dan ini cermin seorang santri. Begitu pula wanita harus memakai tutup kepala atau kerudung, karena wanita yang memakai kerudung kelihatannya lebih anggun,” ujarnya.

Usai shalat, usahakan membiasakan bersalaman dengan para guru. Tapi, ingatnya, jangan mencium tangan sendiri seperti kebiasaan anak zaman sekarang. “Kita harus mencium tangan guru, jangan tangan kita sendiri,” ujarnya menyindir.

“Bagaimana jika lelaki mencium tangan guru perempuan?” tanya seorang santri. “Boleh-boleh saja, asalkan sama-sama tidak mengedepankan hawa nafsu,” jawab Ustadz Gaban. “Jika mengedepankan hawa nafsu, itu berarti maksiat. Dan maksiat dosa,” imbuhnya.

Membawa kitab kuning, katanya, juga jangan ditenteng seperti membawa opak. “Karena itu termasuk zalim terhadap ilmu. Jangan lupa, kitab itu berisi petunjuk kehidupan kita. Makanya, bertakdimlah pada kitab,” pesannya.

Dikatakan Ustadz Gaban, agar berhasil menuntut ilmu, maka santri harus memperhatikan hal-hal ini: pertama, mengagungkan guru. Kedua, mentaati peraturan pesantren. Namun menurutnya, pada zaman ini banyak orang yang mengritik substansi Kitab al-Ta’lim wa al-Muta’allim yang berisi tatakrama belajar santri, lantaran diangggap kuno dan ketinggalan zaman. “Apalagi di zaman modern ini,” terangnya prihatin.[aceng]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP