Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Tausiah Pengasuh
Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya

Kamis, 30 April 2009

MALAM Minggu, 5 April 2009, seluruh santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak tampak khidmat mengikuti pengajian Kitab al-Ta’lim wa al-Muta’allim karya Syeikh al-Zarnuji. Yang lebih istimewa lagi, pengajian kali ini dibimbing langsung oleh Pengasuh Ponpes Qothrotul Falah yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak, KH. Achmad Syatibi Hambali. Abi – sapaan akrab KH. Achmad Syatibi Hanbali – membahas tema Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya atau para ulama.

Dikatakan Abi, dengan menukil keterangan dari Kitab al-Ta’lim wa al-Muta’allim, bahwasanya orang yang sedang mencari ilmu (di pesantren sering disebut thullab al-‘ilm), itu tidak akan meraih ilmu dan ilmunya tidak akan bermanfat, keculi ia mengagungkan ilmu dan orang-orang yang berilmu, termasuk mengagungkan guru-gurunya.

“Orang yang hormat pada guru, insya Allah akan naik martabatnya dan akan bermanfaat ilmunya. Ilmu sedikit bermanfaat itu lebih baik dari pada ilmu yang banyak tapi tidak bermafaat. Karena itu, hormatilah ilmu dan guru. Dan jangan lupa, jangan pernah berharap ilmu bisa datang sendiri tanpa belajar,” pesan Abi, yang juga eyang dari Nilna Dina Hanifa (2,9 tahun) ini.

Menurut Abi, tak ada syarat lain bagi santri yang ingin berhasil kecuali harus hormat pada guru dan mengagungkan ilmu. Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahkan menyatakan: ana ‘abdu man ‘allamani harfan in sya’a ba’a, wa in sya’a a’taqa wa in sya’a istaraqqa (Aku adalah hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Jika ia mau, ia bisa menjualku, memerdekakanku, atau bahkan menjadikanku budak selamanya).
“Jadi, kita harus menyerahkan diri kita kepada guru. Silahkan saja, mau diapakan diri kita oleh guru kita,” pesan Abi. “Karena itu, kalau ingin ilmu kita bermanfaat, hormatilah guru-guru kita!” imbuhnya.

al-Qur’an Besar
Di sela-sela pengajian itu, Abi juga menyisipkan informasi tentang peristiwa yang sedang hangat dibicarakan masyarakat Lebak, yakni kemunculan al-Qur’an besar yang konon secara “tiba-tiba”. Peristiwa ini terjadi di Bojongleles Lebak. Menurut informasi, al-Qur’an besar ini langsung turun dari langit dengan melayang-layang. Malah katanya sekarang sudah bertambah menjadi 5 buah.

“Semua itu bohong. al-Qur’an itu diantar pakai mobil kok. Memang, itu al-Qur’an, tapi tidak turun dari langit. Ternyata mereka membohongi semua orang hanya untuk mencari harta. Melalui kejadian itu, banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk menyaksikannya,” kata Abi.

Selain al-Qur’an yang berukuran lebih 2 meter itu, juga muncul sebuah pedang. Dan tidak sembarang orang bisa memasuki tempat itu. Mereka diwajibkan membayar infak yang bersifat memaksa, yang sudah ditentukan. “Itu hanya sebuah politik untuk mencari uang,” terang Abi geram.

Indikasi ini tampak nyata, karena ketika MUI Lebak ingin membawa dan meneliti al-Qur’an besar itu, mereka tidak menyetujuinya. “Dari situlah timbul kecurigaan tentang kejanggalan al-Qur’an besar itu,” pungkas Abi.[dien]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009



  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP