Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Sepak Bola Mengubah Konflik Negatif Jadi Positif

Senin, 27 Februari 2012

Oleh sebagian orang, sepak bola acap kali hanya dipandang sebagai olah raga fisik biasa, yang tak lebih sebagai ajang kompetisi untuk mengegolkan bola ke gawang lawan. Namun oleh yang lain, sepak bola dilihat secara arif untuk menemukan filosofi positif yang tersembunyi di sebaliknya.

“Sepak bola secara efektif bisa digunakan sebagai media untuk mempromosikan toleransi dan keramahan. Ada yang jadi penjaga gawang, striker, juga bek, semua harus bekerjasama dan menjalankan perannya dengan baik.”

Demikian disampaikan Project Officer (PO) O Soccer for Peace in Pesantrens, Hijroatul Maghfiroh, dalam acara bincang santai bersama DJ Efan’d di Radio Qi FM, Senin (20/2/2011) malam. Ditemani Zeva (Common Ground) dan Damar (KBR 68 H), Firoh – sapaan akrab Hijroatul Maghfiroh – membawa misi dari Search for Common Ground (SFCG) menyebarkan perdamaian melalui sepak bola lewat Program Soccer for Peace.

Dikatakan Firoh, yang pernah mukim di Belanda selama 1,5 tahun ini, setting pelatihan resolusi konflik ini sengaja tidak menggunakan media seminar atau diskusi. “Seminar atau diskusi akan sekali pakai dan tidak ada kelanjutannya. Ini berbeda dengan sepak bola, yang diyakini akan tahan lama, karena semua orang mencintainya,” ujarnya.

Dalam sepak bola, katanya, ada persamaan yang bisa digali. “Semua orang suka sepak bola. Baik suku Jawa-Sunda, konglomerat-melarat, tua-muda, juga lelaki-perempuan tanpa pandang jenis kelaminnya. Ini menunjukkan ada kesamaan di sana, yaitu cinta,” katanya.

Inilah sebabnya, Firoh beralasan, sepak bola layak dijadikan sebagai media penyebaran paham kedamaian di kalangan masyarakat yang berbeda-beda latar belakangnya. “Dengan sepak bola, kita berharap bisa mengubah konflik negatif menjadi konflik positif,” harapnya. “Promosi toleransi melalui sepak bola juga akan mudah kena dan bisa dipraktikkan,” imbuhnya.

Misalnya, Firoh mencontohkan, di dalam sepak bola, setiap pemain memiliki tugas dan tanggungjawab sendiri-sendiri. Ada bek, striker, sayap, penjaga gawang dan sebagainya. “Bek harus menahan nafsunya untuk mencetak gol, karena itu tugas striker. Kalau bek meninggalkan posnya karena nafsu mencetak gol, maka pertahanan akan berlubang dan bisa berbahaya. Inilah letak kerja sama timnya. Dan seharusnya antar manusia yang satu dengan yang lain juga demikian,” ujarnya.

Melihat konflik yang banyak terjadi di negeri ini, Firoh menyatakan, konflik itu sesungguhnya ada yang negatif dan ada yang positif. “Yang negatif bisa diubah jadi positif. Yang destruktif bisa diubah jadi konstruktif. Dan itu bisa ditemukan dalam perbedaan yang ada. Perdamaian adalah proses, yang tak mudah diwujudkan. Namun kita harus terus mengupayakannya,” pintanya wanita asli Brebes Jawa Tengah ini semangat.

“Kenapa pesantren yang dipilih sebagai partner?” tanya Kang Efan’d menggoda. Dalam jawabannya, Firoh menyatakan, dipilihnya pesantren sebagai partner tentu saja bukan lantaran banyak konflik terjadi di pesantren. “Pesantren itu berisi manusia yang berkualitas. Para santri itu calon pemimpin dan panutan masyarakat. Nilai perdamaian akan sangat efektif jika diketahui oleh mereka, karena kelak mereka akan jadi rujukan masyarakat,” katanya beralasan.

Untuk diketahui, bekerjasama dengan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, SFCG bersama Asian Soccer Academy (ASA), selama tiga hari, Selasa-Kamis (21-23/2/2012), mengadakan Training of Trainer (TOR) Soccer for Peace in Pesantrens bertempat di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.

Peserta TOT yang juga diselenggarakan di sepuluh pesantren Indonesia ini adalah guru-guru olah raga dari sekolah-sekolah di sekitar Kec. Cikulur. Misalnya, SMAN 1 Cikulur, SMK Bina Bangsa, SMPN 1 Cikulur, MTs Nurul Athfal, SMPN 2 Cikulur, dan banyak lagi. Adapun tujuan kegiatan tiga hari ini adalah untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi dalam sepak bola, menguatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai prinsip-prinsip penyelesaian konflik tanpa kekerasan.[enha]

0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP