Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Berawal dari Mimpi, Qi FM Hadir Menebar Keramahan

Minggu, 12 Februari 2012

Radio Komunitas (Rakom) Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, yang diberi nama Qi FM, berawal dari mimpi. Radio kebanggan santri dan masyarkat Cikulur yang mengudara perdana pada Selasa (7/2/2012) ini menempati frekuensi 107.70. Tujuan dasarnya tiada lain untuk menyebarkan kerahmatan dan kemanfaatan bagi para pendengar yang tersebar di wilayah Kec. Cikulur, Kec. Warunggunung, Kec. Cibadak, Kec. Pandeglang, dan sekitarnya.

Bagaimana proses berdirinya Radio Qi FM, berikut petikan wawancara penyiar Radio Qi FM Agus F. Awaluddin (AFA) dengan Nurul H. Maarif (NHM, biasa disapa Enha), yang turut membidani lahirnya radio ini, dalam talkshow yang disiarkan langsung oleh Radio Qi FM, Kamis (9/2/2012) menjelang magrib:

AFA : Salam. Sehat Kang Enha?

NHM : Wasalam, Kang Agus. al-Hamdulillah, berkat doa semua, saya sehat-sehat saja. Semoga seluruh kru Radio Qi FM juga sehat.

AFA : Kang Enha, bisa diceritakan kepada para pendengar perihal awal mula munculnya Radio Qi FM yang menjadi kebanggaan warga Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini?

NHM : Radio ini berawal dari mimpi. Tentu bukan mimpi di siang bolong, melainkan mimpi yang diiringi ikhtiar.

AFA : Maksudnya bagaimana Kang?

NHM : Ini tidak jauh-jauh dari misi dakwah pesantren kita. Ketika awal 2009 saya mulai mengabdikan diri di sini (Ponpes Qothrotul Falah, red), saya melihat media dakwahnya masih terbatas mimbar saja. Dari ceramah ke ceramah. Dari kelas ke kelas. Segmen pendengar dan waktunya sangat terbatas. Padahal ada media lain yang bisa dimanfaatkan, semisal lembar (penerbitan), dunia maya (internet), udara (radio), dan sebagainya. Saya memimpikan, kenapa tidak pesantren ini berdakwah melalui seluruh lini ini?

AFA : Benar, Kang. Lantas bagaimana?

NHM : Lalu saya dan kawan-kawan yang konsen dengan penyebaran misi pesantren, merancang Pondok Baca Qi Falah, Buletin Qi Falah, www.qothrotulfalah.com, dan yang baru Radio Qi FM. Dengan demikian, kita telah mengisi ruang mimbar, lembar, maya dan udara. Mimpi yang sudah lama itu ternyata sedikit demi sedikit menjadi kenyataan juga.

AFA : Kalau bisa diceritakan, mimpi radio ini bagaimana?

NHM : Ya, itu tadi, saya membayangkan dakwah pesantren juga melalui udara, sehingga bisa menyapa masyarakat hingga pelosok desa di sekitar pesantren. Itu sebabnya, saya suka ceritakan mimpi ini pada kawan-kawan. Bahkan suatu saat, saya menulis di status face book saya, “Andaikan saja QF punya radio....”.

AFA : Sampai segitunya?

NHM : Benar, Kang Agus. Kan mimpi itu harus diceritakan kepada semua orang. Harapannya, yang mendengar akan turut mendoakan terwujudnya mimpi ini. Dan al-Hamdulillah, kalau pinjem bahasa Kang Iwan Fals, ini bukan “mimpi yang terbeli”. Ini mimpi yang benar-benar nyata. Allah menjawab doa di hati saya dan yang saya tuliskan di status face book saya, entah berapa bulan yang lalu itu.

AFA : Bagaimana Allah menjawabnya?

NHM : Allah Maha Kuasa. Ia menggerakkan hamba-hamba-Nya yang peduli dan punya keinginan sama untuk membantu kita. Lalu “diutus”-lah Search for Common Ground (SFCG) Jakarta, bekerjasama dengan the WAHID Institute dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), untuk merealisasikan mimpi itu. Inilah hikmah silaturahim.

AFA : Bagaimana cerita silaturahim itu?

NHM : Itu panjang. Nggak perlu diceritakan lah. Pada intinya, pihak SFCG memiliki program pendirian radio komunitas untuk pesantren. Mereka akan menyediakan segala perlengkapan siarannya, termasuk juga konsultan radionya. Atas rekomendasi kawan-kawan dari TWI dan P3M itulah Ponpes Qothrotul Falah ditunjuk sebagai mitra (satu-satunya dari Banten). Dan inilah hasil dari komunikasi itu. Karenanya kita harus berterima kasih kepada mereka, yang telah memberikan kepercayaan pada kita semua.

AFA : Apa sesungguhnya misi yang diemban radio ini?

NHM : Misinya sangat pesantren. Ingin menyampaikan Islam yang rahmat bagi alam atau ramah lingkungan. Ibarat orang makan, kita ini kan makannya satu meja, yaitu buminya Allah. Jamuan dan racikan makanannya pun sama-sama dihidangkan oleh Allah. Kenapa sih, meja makannya sama dan lauknya juga sama kok berantem? Ribut? Bawa pentungan? Melalui radio ini, kita ingin bahagia dan tertawa bersama, tanpa ada ganjalan di hati.

AFA : Apa lagi?

NHM : Kita ingin menyebarkan tradisi pesantren. Ada tahlil, maulid, ziarah, dan sebagainya. Juga kita ingin memyampaikan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Ini yang harus diruwat dan dirawat oleh pesantren.

AFA : Tujuan yang mulia Kang. Kalau soal nama Qi FM, itu filosofinya apa?

NHM : Awalnya kita mau kasih nama QF FM. Tapi orang Sunda susah mengucapkannya. He.. Ada lagi usulan Q Falah FM, tapi kepanjangan. Lalu kita ringkas menjadi Q FM. Ternyata nama ini sudah sangat populer di berbagai belahan dunia. Di Zimbabwe, ada Radio Q FM, demikian juga di Dominika. Di Indonesia sendiri, tepatnya di Tasikmalaya ada Radio Q FM, yang sahamnya milik Yayasan Pendidikan Telkomsel (99 %) dan Koperasi Sumur Bandung (Kosumba, 1%). Ini singkatan dari Quantum FM. Karena alasan itu, lantas Q FM milik pesantren ini kita tambah hurufnya menjadi Qi FM, dengan singkatan Qothrotul Falah FM. Biar mudah diingat dan menancap di hati pendengar.

AFA : Oh begitu... Harapan Kang Enha sendiri pada radio ini apa?

NHM : Tentu saja saya berharap, radio ini bisa menyebarkan misi pesantren dengan sebaik-baiknya, sehingga masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya. Kepada para kru radio, saya berharap bekerjalah untuk umat dengan sebaik-baiknya. Karena radio ini mengemban misi “berkhidmat untuk umat”. Kepada masyarakat, berilah masukan-masukan positif untuk kelangsungan radio ini. Dan pada SFCG, saya berharap supportnya. Ibarat bayi yang baru lahir, tak mungkin bayi ini ditinggalin begitu saja. Perlu diajarin merangkak, jalan, dan lari. Haa...

AFA : Kalau teknik penyiarannya sendiri, apa pihak pesantren sudah menguasainya?

NHM : al-Hamdulillah, SFCG memberikan fasilitas pelatihan dengan mendatangkan kawan-kawan aktivis Radio Komunitas Jawa Barat. Ada Kang Adi, Kang Dani, dan Kang Roni. Thank banyak.

AFA : Kalau harapan lain terkait pesantren ini ke depan?

NHM : Ada satu harapan yang sangat kuat dalam diri saya, yang terus-menerus terbayang, yaitu mendirikan penerbitan. Namanya kita sudah punya, Qi Falah Pustaka atau Qi Pustaka. Naskah-naskahnya sedang kita godok, termasuk hasil tanya jawab agama dengan pengasuh yang dimuat secara berkala di www.qothrotulfalah.com. Nah, untuk yang satu ini, niatannya supaya ketika saya dan kawan-kawan meninggalkan dunia ini, masih tersisa kemanfaatan yang bisa diberikan kepada masyarakat. Al-khaththu yabqa zamanan ba’da shahibih wa katibul khaththi taht al-ardhi madfunun. Teks akan kekal sepanjang zaman, sementara penulisnya hancur lebur terkubur di kolong tanah. Ini cita-cita saya paling dasar yang belum terlaksana. Semoga ada rekan-rekan yang peduli dan berkenan turut membantu muwujudkannya. Tidak mustahil, Allah memberikan kejutan-kejutan lainnya.

AFA : Mantap Kang. Semoga lekas terlaksana. Kita turut mendoakannya. Mungkin sampai di sini dulu, Kang, ngobrol-ngobrol kita, mengingat waktunya yang sempit. Terima kasih atas kehadirannya di Studio Qi FM.

NHM : Terima kasih kembali.[]




0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP