Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Penjaga Tradisi

Selasa, 17 Januari 2012

Oleh Fauzul Iman Muzayid*

Hari apa yang paling panjang nan indah? Tentu jawabannya hari Jum’at. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Arju dan Asep. Kalau masih tidak percaya lagi, tanya saja sama santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah (QF) Cikulur Lebak Banten.

Hari Jum’at adalah weekend bagi para santri. Surat izin keluarpun mudah didapatkan. Bisa dipastikan, pondok bakalan sepi kayak kuburan pada hari Jum’at.

Rutinitas keluar pondok tiap hari Jum’at sudah seperti kewajiban bagi para santri. Maklum, setiap hari mereka bergelut dengan hafalan-hafalan pelajaran dan peraturan pondok yang ketatnya minta ampun. Jadi, wajarlah otak mereka membutuhkan refreshing.

Arju al-Farizi dan Asep Saifuddin adalah santri Pondok QF yang berniat izin keluar untuk bersilaturahim ke rumah kakak alumni mereka yang bernama Mang Irul. Di mata mereka berdua, silaturahim adalah media yang tepat untuk menyalurkan hasrat keluar mereka.

Selain bernilai sunnah, silaturahim sama artinya dengan penghematan. Mereka cukup sedia uang buat transport. Sementara keperluan makan dan minum, tuan rumah dijamin bakal kasih geratisan. Soal geratisan mereka jagonya.

Arju dan Asep sudah berdiri di halte bis depan pondok. Seperti biasa, mereka mengenakan atribut kebesaran; kopiah hitam, baju muslim dan sarungan. Mereka berdua memang sedang menjaga tradisi pesantren. Ke manapun mereka pergi selalu mengenakan identitas resmi mereka, yaitu menjadi seorang santri tulen.

“Ju, ada bis tuh. Ayo kita cegat,” ucap Asep.

“Ayo cepetan. Bisnya sudah dekat,” jawab Arju.

Bis semakin mendekat dengan mereka. Tapi apa yang terjadi?

Wrooonnggg.... wrooonnngggg.... wrooonnngggggg..... Bis itu bukannya mengurangi kecepatan, malah melaju semakin cepat. Wuuuzzzzz.... Bis terus melaju dengan kencang.

Kesulitan menghentikan bis, dulu tak pernah mereka alami. Semenjak mereka berikrar untuk menjaga tradisi lama kaum santri salafi (tradisional), sopir dan kenek bis tidak mau berhenti, hanya karena risih melihat dandanan mereka yang nyentrik; sarungan dan kopiahan.

Saat ini, banyak santri yang sudah tidak pede pakai kopiah, baju muslim dan sarungan saat keluar pondok. Mereka lebih suka mengganti sarung dengan celana jeans. Baju muslim dengan t-shirt. Dan kopiah dengan topi kayak rapper.

Perubahan santri di pondok ini sebenarnya karena pengaruh trend yang harus berubah. Dulu, pondok QF terletak di sudut kampung. Sekelilingnya hamparan sawah yang luas. Kini, sawah-sawah itu telah berubah menjadi kompeks perumahan, pusat hiburan dan perbelanjaan.

Perubahan itulah yang membuat citra santri yang sederhana dan apa adanya mulai hilang. Itulah yang menyebabkan mereka berdua nekad untuk menjaga tradisi santri. Misalnya, mereka lebih memilih tinggal di gubug yang reot, daripada tinggal di bangunan lantai tiga, mengganti lampu listrik dengan lampu teplok dan sebagainya.

Berjam-jam mereka menunggu bis. Tidak terasa, hari beranjak sore. Mereka belum juga mendapatkan bis, sampai akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk bersilaturahim ke rumah Mang Irul.

Tapi mereka tak pernah menyerah untuk menjaga tradisi santri yang terkesan sederhana; bersarung dan berkopiah. Sabar, sabar dan sabar. Itulah kata yang selalu mereka ucapkan, yang selalu bersemangat untuk menjaga tradisi dan tidak akan pernah menyerah. Semangat terus Arju dan Asep![]

*Siswa Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah, asal Ciputat Tangerang Banten




0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP