Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Jeritan Kematian

Selasa, 17 Januari 2012

Oleh Muhammad Bahri*

Sakaratul maut merupakan masa-masa terakhir menjelang ajal. Masa di mana orang bisa tenang jika mempunyai perbekalan akhirat yang cukup. Tetapi menjadi menakutkan manakala tak secuilpun kebajikan ditunaikan. Sakaratul maut adalah kejadian yang sangat berat, menakutkan serta mengerikan. Firman Allah Swt dalam Qs. ke-50 : 19, yang artinya: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah apa yang selalu kamu hindari dan kamu lari menjauhinya.”

Syaikh al-Kulayani meriwayatkan Hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq yang berkata; “Suatu hari Rasululllah Saw mengunjungi Imam Ali yang sedang sakit mata, dan ia merintih kesakitan.”

Rasulullah bertanya; “Apakah jeritan itu disebabkan engkau tidak tahan atau lantaran rasa sakit yang luar biasa?

Imam Ali menjawab; “Saya belum pernah merasakan sakit seperti ini.”

Rasulullah Saw bersabda; “Ketika malaikat maut datang mencabut nyawa seorang kafir, dibawanya besi runcing seperti penusuk daging yang terbuat dari api. Malaikat kemudian mengeluarkan nyawanya dengan besi runcing tersebut, hingga orang kafir itu pun menjerit kesakitan.”

Setelah Imam Ali mendengar cerita tersebut, ia bangun, duduk lalu berkata; “Ya Rasulullah, ulangilah cerita tersebut agar aku melupakan kesakitanku.”

Imam Ali terus bertanya; “Apakah ada diantara umatmu yang nyawanya dicabut seperti itu?”

Rasul bersabda; “Ya, ada. Nyawa para penguasa yang zalim, orang-orang yang memakan harta anak yatim dan orang-orang yang memberikan kesaksian palsu, semuanya akan direnggut nyawanya dengan cara demikian.”

Namun menurut beberapa keterangan, jika hendak mencabut nyawa seorang mukmin yang saleh, malaikat akan menjelma dengan wajah yang menyenangkan, pakaian yang indah lagi wangi, tutur kata yang lembut, penampilan yang ramah dan selalu didahului dengan ucapan salam, sehingga sang mukmin tetap tenang dan tak menampakkan ketakutan. Namun sebaliknya, malaikat maut akan datang dengan wajah yang seram, kata-kata dan perilaku yang kasar, jika yang meninggal adalah seorang yang bukan mukmin, sehingga nyawanya dicabut dengan paksa dan ia merasakan sakit yang hebat.

Demikianlah beberapa hal yang menyertai sakaratul maut. Menjelang ajal ada yang meronta-ronta kesakitan, karena mempunyai banyak dosa yang belum tertebus di waktu taubat yang sudah tertutup. Sebaliknya, ada yang menjelang ajalnya tampak tenang dan pasrah serta lancar mengucapkan istighfar karena siap mengahadap Yang Maha Kuasa dengan bekal iman, taqwa dan amal saleh yang dilakukannya sewaktu di dunia.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw pernah mengunjungi seorang anak muda yang sekarat. Rasul mengajarkan kepadanya agar ia mengucapkan kalimat syahadat. Namun, mulut pemuda itu tetap bungkam dan tak dapat mengucapkannya. Kemudian Rasul bertanya kepada seorang wanita yang berada di dekat pemuda tersebut; “Apakah pemuda ini masih memiliki ibu?”

Wanita itu berkata; “Ya, akulah ibunya.”

Rasul bertanya: “Apakah kamu murka kepadanya?”

Ia menjawab: “Ya, sampai sekarang, sudah enam tahun aku tak berbicara dengannya.”

Rasul berkata: “Relakanlah dia.”

Wanita itu berkata; “Semoga Allah meridhainya demi ridhamu, wahai Rasulullah Saw.”

Ketika mengucapkan kalimat yang menunjukkan kerelaannya, maka terbukalah mulut pemuda tersebut. Rasul bersabda; “Ucapkanlah Laa Ilaaha Illa Allah (Tiada tuhan selain Allah). Pemuda itupun mengucapkannya.

Rasul bersabda; ”Apakah yang engkau lihat?”

Ia berkata; “Seorang laki-laki berkulit hitam, berwajah seram dan pakaian yang menjijikkan serta berbau busuk mencekik leher pernafasanku.”

Rasul bersabda; “Ucapkanlah Yaa Man yaqbalul yasiira wa ya’fu ‘anil katsiiri aqbil minnii al-yasiira wa’fu’ ‘annii al-katsiira. Innaka Anta al-Ghafuru ar-Rahiim (Duhai dzat yang menerima amal yang sedikit, dan yang memaafkan dosaku yang sangat banyak, terimalah amal salehku yang sedikit, dan ampunilah dosaku yang sangat banyak. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Maka pemuda itu membaca doa yang diajarkan Rasul dan Rasul bersabda; “Lihatlah! Apa yang tampak sekarang?”

Pemuda itu berkata; “Saya melihat seorang berkulit putih, berwajah tampan dan berbau harum serta mengenakan pakaian yang baik datang menghampiriku. Sementara itu, orang yang berwajah hitam tadi membelakangiku dan hendak pergi.”

Rasul berkata; “Ulanglah doa itu!”

Pemuda itu membacanya lagi. Rasul bertanya; “Apa yang kau lihat sekarang?”

Sang pemuda menjawab; “Aku tidak melihat lagi orang yang berwajah hitam itu, dan orang yang berwajah putih itu berada di sisiku.” Tak lama kemudian pemuda itu wafat.

Dari kisah di atas, secara jelas meski Rasul membacakan talqin untuknya, tetap saja ia tak dapat mengucapkan kalimat tauhid. Setelah ibunya memaafkan kesalahannya, barulah pemuda itu dapat membuka mulutnya dan mengucapkan kalimat syahadat.

Ada sebuah riwayat yang menjelaskan bagaimana caranya agar peristiwa yang dikhawatirkan tidak terjadi seperti dalam cerita tersebut. Syaikh Ash-Shaduq meriwayatkan dari Imam As-Shadiq bahwa beliau berkata; “Barangsiapa ingin agar Allah memudahkan sakaratul mautnya, maka hendaklah ia menyambung tali silatuhrahim dan berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Jika ia berbuat demikian, Allah akan memudahkan segala kesulitan di saat nyawanya direnggut dari badan serta rezkinya dimudahkan.”

Dengan mengetahui sakaratul maut dan berbagai kejadian yang menyertainya, semoga menjadikan kita tetap ingat bahwa dunia bukan ajang untuk menumpuk kekayaan, merebut kekuasaan serta gagah-gagahan, tetapi media kita untuk mempersiapkan diri bagaimana menghadapi kematian, selanjutnya menuju kehidupan yang abadi.[]

*Santri Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah asal Koncang Cikulur Lebak




0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP