Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Mau Berilmu? Jangan Banyak Tidur!

Sabtu, 01 Oktober 2011

Burung bisa terbang karena sayapnya. Ayam bisa mencari makan karena cekernya. Dan manusia bisa hidup karena ilmunya. Dengan ilmu, di manapun dia tinggal, dia akan bisa mempertahankan hidupnya.

“Makanya, tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya,” demikian disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah CIkulur Lebak Banten, KH. Achmad Syatibi Hambali saat memberikan pengajian Kitab Ta’lim al-Muta’allim, di Majelis Qothrotul Falah, Sabtu (1/10/2011) malam.

Dengan ilmu, kata Kiai Ibing – sapaan akrab Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak ini – kita bisa menjadi PNS, pengusaha, pejabat, pegawai kantoran, staff perusahaan atau yang lainnya. “Kalau punya ilmu, kita akan disejajarkan dengan yang lain,” ujar kakek dua cucu ini.

Dikatakan Kiai Ibing, jika ingin mendapatkan kelayakan hidup di dunia, maka diantara yang harus dihindari adalah berbohong dan kebiasaan tidur setelah subuh. “Tidur setelah subuh itu enak. Tapi akibatnya bisa melarat harta dan ilmu,” katanya. “Jangan tidak percaya. Ini keterangan ulama,” imbuhnya.

Banyak tidur, katanya, juga bisa membawa susah. “Tidur itu perlu diatur, karena kebutuhan. Tapi jangan kebanyakan. Cukup 6 jam lah. Sebab, akibatnya, kalau kebanyakan tidur, susah ilmu dan melarat,” katanya. “Makanya, kalau di pesantren dibangunkan malam-malam, jangan marah. Harusnya bersyukur,” sambungnya.

Kiai Ibing berharap, santri sering-sering bangun malam untuk shalat tahajjud, mendaras al-Qur’an dan belajar atau muthalaah. Beliau lantas menceritakan pengalamannya memiliki teman yang sudah bergelar akademik sarjana muda yang mondok sekamar dengannya.

“Dia tiap malam pukul 03.00 bangun untuk tahajjud. Wiridnya cuma baca al-Qur’an sampai subuh. Subhanallah, sekarang dia ilmunya banyak. Punya pesantren di Cimone Tangerang, di tengah kota. Walau bangun malam, dia sehat-sehat saja. Jadi nggak usah kuatir kesehatan. Umur itu milik Allah SWT,” ceritanya.

Kiai Ibing lantas mengutip syair yang tercantum dalam kitab yang dibacanya. Alaisa min al-khusrani anna layaliya # tamurru bila naf’in wa tuhsabu min al-‘umri (bukankah kerugian, malam-malam terus # berjalan tanpa manfaat, sementara malam terus dihitung sebagai bagian umur).

“Rugi kalau malam berlalu tanpa manfaat, sedang usia terus dihisab. Apalagi usia nggak dipakai belajar, muthalaah, ngaji, atau berbuat baik. Makanya, jika guru tidak ada, belajar tetap harus dijalani sendiri,” pesannya.[enha]





0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP