Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Kiai Dahlan Temui Santri Kiai Ibing

Jumat, 30 September 2011

Untuk merilekkan mental-spititual santri usai menjalani Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harian, Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten menggelar nobar alias nonton bareng film “Sang Pencerah” besutan Hanung Bramantyo, Kamis (29/9/2011) malam, di lapangan pesantren.

“Kegiatan santri itu padat. Makanya butuh refreshing. Diantaranya dengan memutar film, baik film pendidikan maupun hiburan yang positif,” ujar Koordinator Majelis Pembimbing Santri (MPS), Ustadz Aang Abdurrahman S.E.

Nobar dengan media layar lebar menggunakan infokus ini, diselenggarakan usai kegiatan rutin muhadharah (latihan berpidato santri). “Malam Jum’at santri menyelenggarakan kegiatan. Paginya kan kosong. Karena itu, kita manfaatkan untuk hiburan,” ujar putera pertama Pengasuh ini.

Santri-santri terlihat antusias menyaksikan film sejarah tokoh Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan ini. Banyak diantara mereka yang respek dan mengaku mendapat pelajaran dari film ini. “Film ini membuat kita semakin tertantang untuk maju. Menarik sekali. Mungkin harus sering diputar film-film yang mendidik seperti ini,” ujar TB Munawir, santri Kelas VIII MTs Qothrotul Falah, asal Pandeglang Banten.

Kenapa film “Sang Pencerah” yang identik dengan Ormas Muhammadiyah yang disuguhkan? Ustadz Ahmad Turmudzi, penanggungjawab lapangan pemutaran film ini, menyatakan, pihaknya tidak pernah membedakan ormas manapun di hadapan santri. “Kita tidak melihat Muhammadiyah-nya, tapi hikmah dari film itu; perjuangan itu butuh pengorbanan, apalagi di tengah masyarakat yang kolot budayanya,” katanya, dalam pesan singkat yang dikirimkan ke redaksi www.qothrotulfalah.com.

“Kisah Ahmad Dahlan dalam “Sang Pencerah” itu seru. Tapi masih penasaran saja nih. Kudu cari cerita aslinya di buku. Santri-santri juga tampak seru nontonnya,” imbuhnya. “Tapi, begitulah cara Kiai Ahmad Dahlan menemui santri-santri Kiai Ibing di Pondok Pesantren Qothrotul Falah untuk mengajarinya kearifan hidup,” imbuhnya.

Menurut Atur – sapaan akrabnya – soal ke-Muhammadiyah-an film ini, pihaknya enjoy-enjoy saja. Tidak perlu ada sekat antara kita dengan pihak lain. Semuanya sama, cuma beda kebiasaan saja. “Santri-santri juga berhak memilih jalan masing-masing; Muhammadiyah atau Nahdhatul Ulama. Tapi itu nanti saja urusannya,” katanya.

Rencananya, ke depan, kegiatan nonton bersama ini akan terus diselenggarakan. Niatannya, selain untuk media relaksasi santri, juga untuk menginjeksikan nilai-nilai pendidikan yang positif pada para santri. “Kita sudah menyiapkan banyak judul film, untuk diputar selanjutnya,” ujar Atur.[enha]




0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP