Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Kunjungi Pesantren, Dua Bule Disambut Hangat

Jumat, 14 Oktober 2011

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten mendapat kehormatan dikunjungi dua bule wanita. Mereka adalah Sarah McLaughlin (Asia Program Manager Search for Common Ground) dan Vanessa Corlazzoli (Design, Monitoring & Evaluation Specialist Search for Common Ground), Kamis (13/10/2011). Bule asal AS dan Kanada itu ditemani Suraji, Yunita (Common Ground Indonesia), Gamal Ferdhi (the WAHID Institute Jakarta) dan Veri Verdiansyah (P3M Jakarta).

Kedatangan mereka di pesantren sekira pukul 09.40 WIB itu, disambut hangat oleh sejumlah dewan guru dan para santri. Tampak misalnya, Ahmad Turmudzi (Ketua Pondok Baca Qi Falah), Agus F. Awaluddin (Guru Matematika), Neng Atikoh (Guru Bahasa Inggris), Nurul H. Maarif (Kepala SMA Qothrotul Falah), Dede Saadah (Bendahara Pesantren), Mulyanis (Pembina PMR) dan lainnya. Para santri juga tak kalah hangat menyambut mereka.

Kedatangan mereka atas nama Search for Common Ground (lembaga perdamaian yang berpusat di Washington DC) ini guna melakukan survey awal terkait rencana pendirian Radio Komunitas Berbasis Pesantren di Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Untuk kepentingan program ini, mereka menggandeng the WAHID Institute dan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta.

Menurut pengakuan Vanessa, sesaat setiba di pesantren, ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia. “Pesantren ini kunjangan saya pertama kalinya,” ujarnya dalam Bahasa Inggris. “Kalau saya, ke Indonesia dua kali. Ke pesantren baru kali ini,” sambung Sarah, juga dalam Bahasa Inggris.

Bertempat di Pondok Baca Qi Falah, tim dari tiga lembaga itu lantas saling beramah-tamah dengan pihak pesantren. Dalam sambutannya, Suraji menyatakan, kehadiran pihaknya ke pesantren ini selain untuk menjalin tali silarahim, juga untuk membicarakan rencana pendirian Radio Komunitas. Radio yang niatannya untuk menangkal paham radikal, termasuk yang menolak tahlil, maulid, ziarah, kekerasan, juga menyebarkan ajaran yang tasamuh, tawasuth, tawazun dan ‘adalah, diharapkan bisa berdiri di pesantren ini.

Dalam sambutannya, pihak pesantren yang diwakili Nurul H. Maarif (NHM) menyatakan, pihaknya menghaturkan banyak terima kasih atas kepercayaan ini. “Tujuan pendirian radio komunitas ini sesuai tradisi pesantren. Karenanya, kami selaku pihak pesantren menyambutnya dengan senang hati. Semoga kegiatan ini bisa menjadi tali pengikat antara kita yang cinta perdamaian,” ujarnya.

Selain mengucapkan rasa terima kasihnya, NHM juga mengungkapkan keheranannya pada tamu bulenya, Sarah dan Vanessa, yang mengenakan kerudung ala santri. “Gimana rasanya mengenakan kerudung?,” tanya NHM, iseng. “Panas sekali,” ujarnya sembari tertawa riang.

Bagi NHM, tidak semestinya orang yang datang ke pesantren ini harus mengenakan kerudung. “Kenapa harus mengenakan kerudung? Pesantren ini terbuka untuk siapa saja. Yang pasti, ini bukan kententuan yang kami syaratkan bagi tamu-tamu kami,” katanya. “Belum tentu kami yang berkerudung lebih baik dari yang tidak berkerudung. Karena itu, datang saja ke pesantren ini sesuai keaslian kalian. Kami khawatir dikira melakukan pemaksaan pada tamu-tamu untuk berkerudung,” imbuhnya.

Usai beramah-tamah, agenda lantas dilanjutkan FGD bersama para santri. Kegiatan ini dibimbing Suraji dan Yunita, keduanya dari Search for Common Ground. Tim lalinnya, Gamal dan Very bertugas melakukan survey pada para santri terkait isu-isu agama yang berkembang di sekitar pesantren. Sedangkan kedua bule berjalan-jalan keliling pesantren ditemani Andika, Neng dan Agus. Rencananya mereka akan melakukan kegiatan ini selama tiga hari, hingga Sabtu.

Merespon kunjungan bule-bule ini, para santri tampak antusias. Selain berkesempatan melatih Bahasa Inggrisnya, mereka bisa mengenal lebih dekat kepribadian mereka. “Bule itu ramah-ramah ya. Mereka baik-baik sekali,” ujar Yessi Yusrina. “Mereka juga peduli kebersihan. Sampah-sampah bekas makanan dibuang sendiri ke tempatnya,” lanjut Ima H. Najiah heran.

Buang sampah sendiri saja kok heran? “Itu sindiran buat kita. Kita yang punya dalilnya, kebersihan itu sebagian dari iman, tapi mereka yang mengamalkan. Belajarlah dari mereka. Kita biasanya memusuhi orang lain, karena kita tidak tahu siapa mereka sesungguhnya. Dengan mengenal mereka, kita akan bisa berbaur,” timpal NHM.

Semoga, kunjungan mereka kali ini, yang bak artis, membawa berkah, baik buat pesantren maupun masyarakat. Pun, tujuan menolak kelompok pengharam tahlil, ziarah, maulid, dan berhaluan ahlu radikal dan kekerasan melalui pendirian radio komunitas berbasis pesantren bisa tergapai.[enha]

0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP