Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Mang Udong Ajari Santri “Berkicau”

Rabu, 28 September 2011

Suatu ketika, Rasulullah Saw mendengar bacaan al-Qur’an yang sangat merdu dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari r.a. Beliaupun Saw pun lantas memujinya. “Sungguh engkau telah diberi seruling (suara merdu) di antara seruling-seruling keluarga Dawud,” pujinya. (HR Muhammad bin Ismail al-Bukhari).

Pujian ini menunjukkan apresiasi yang mendalam dari Rasulullah SAW atas para pelantun ayat-ayat al-Qur’an dengan suara yang indah nan merdu. Dalam sabdanya yang lain, beliau menganjurkan kita untuk menghiasai bacaan al-Qur’an dengan suara kita. “Hiasilah al-Quran dengan suara kalian,” sabdanya. (HR An Nasa`i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Bahkan, lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda: laisa minna man la yataghanna bi al-Qur’an (Bukanlah golongan kami, orang yang tidak melagukan al-Qur’an). (HR Abu Dawud). Sabda ini dimaksudkan agar ayat-ayat al-Qur’an dilantunkan semerdu dan seindah mungkin, sehingga bisa menggetarkan hati setiap pendengarnya. Atau setidaknya, membuat pendengarnya – baik yang muslim maupun non-muslim – tertarik dengan roman seni al-Qur’an.

Upaya pengamalan Hadis ini, pulalah yang diterapkan di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten. Setiap Senin malam di Majelis Putera Qothrotul Falah, oleh Ustadz Udong Khudori dan Ustadz Ahmad Hudaedy, para santri diajari cara “berkicau” yang baik, sehingga ayat-ayat al-Qur’an dilantunkan dengan merdu. Cara berkicau ini biasanya disebut taghanni atau qira’ah dalam tradisi Indonesia.

Mang Udong – sapaan akrabnya – pelantun ayat-ayat al-Qur’an dari Cipasung Cikulur Lebak ini, ditemani Mang Dedy – sapaan akrab Ustadz Dedy Huadedy – biasanya mengajari model-model pembacaan al-Qur’an, dari bayati, syikkah, shaba, hijaz, jawabul jawab dan sebagainya. Dengan model pembacaan ini, diharapkan santri kian terbiasa melantunkan al-Qur’an dengan merdu dan indah, seperti yang biasa dilakukan Muammar ZA dan Haji Humaidi.

Pada Senin malam lalu (26/9/2011) santripun tampak antusias mengikuti kegiatan taghanni ini, dengan suaranya masing-masing yang beraneka ragam sesuai kekhasannya. Barangkali saja, di dalam hati mereka, mereka ingin menjadi pelantun ayat-ayat al-Qur’an yang ulung dan menawan. Semoga saja, apa yang mereka lakukan menjadi bagian dari pelestarian al-Qur’an dan pengamalan Hadis Rasulullah SAW.

Hayooo para santri, teruslah latihan “berkicau”, sehingga al-Qu’ran kian diminati masyarakat di berbagai kalangan. Semoga, ada diantara kalian yang berhasil menjadi pelantun al-Qur’an ulung, sebagai generasi Mang Udong dan Ustadz Dedy.[enha]




0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP