Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Jadikan Seluruh Ibadah Sebagai Andalan!

Senin, 12 September 2011

Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak menyelenggarakan Silaturahim dan Halal Bi Halal 1432 H, di Majelis Qothrotul Falah, Sabtu (10/09/2011) pagi. Tampak hadir jajaran pengelola, dewan guru dan para santri. Misalnya, Supardan, SE., M.M.Pd., Nurul H. Maarif, Ahmad Turmudzi, Dede Saadah, dan sebagainya.

Kegiatan halal bi halal diisi siraman ruhani dan diakhiri ilahi ya karim alias bersalam-salaman sebagai tanda saling memafkan, ini dipandu oleh Ahmad Turmudzi. Bertindak sebagai pentausiah adalah sesepuh dewan guru Supardan SE, M.M.Pd. dan Kepala SMA Qothrotul Falah Nurul H. Maarif.

Dalam tausiahnya, Supardan menekankan pada para santri perihal pentingnya proses menuju keberhasilan. “Kalau kalian mau berhasil, maka harus komitmen dan konsekuen. Juga kontinyu dan manfaatin waktu sebaiknya. Dengan empat hal ini, kita akan bisa bersaing di tengah arus globalisasi,” katanya berpesan.

Dikatakan guru asal Kota Udang Cirebon ini, kesuksesan tidak bisa diraih begitu saja. “Kesuksesan itu berangkat dari nol. Hari ini datang di QF, tidak bisa serta-merta besok sukses. Butuh waktu puluhan tahun, apalagi belajar agama,” ujarnya. “Juga harus ada perpaduan dari semua unsur yang terlibat proses belajar-mengajar ini. Pastinya, kesuksesan harus diprogramkan sejak dini,” imbuhnya.

Jika kesuksesan diraih, urainya, maka kita akan bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Mau jadi apa saja, PNS, aktivis LSM, atau apapun, asalkan manfaat, itu tujuan pokoknya,” katanya mengakhiri tausiahnya.

Sedang Nurul H. Maarif lebih menyoroti makna kembali pada fithrah, paska idul fithri. Ia menjelaskan rangkaian ritual dari puasa Ramadhan, zakat, idul fithri dan syawalan. “Kita sering berbangga, setelah menjalankan puasa, kita kembali suci, bersih, laksana bayi yang baru dilahirkan. Saya tanya, siapa yang berani menjamin, puasa kita telah menjadikan kita suci laksana bayi?” tanyanya.

Menurut Nurul, bukan puasa, zakat, idul fithti atau syawal yang menjadikan kita suci kembali, melainkan kualitas pelaksanaan semuanya. “Banyak yang berpuasa, zakat, idul fithrian, syawalan, tapi tak menyebabkannya kembali suci, karena kualitasnya yang nol. Rasul sendiri bilang, banyak yang berpuasa tapi hanya beraih lapar dan dahaga. Itu artinya puasa saja tidak jaminan,” ujarnya.
Bagi Nurul, Ramadhan yang berkualitas adalah yang diiringi imanan wa ihtisaban (dilandasi keimanan dan ketulusan pengabdian hanya untuk Allah), dalam arti yang sesungguhnya. “Pasrah total pada Allah, itulah imanan wa ihtisaban, yang menjadikan dosa-dosa kita diampuni. Tidak semata menggugurkan kewajiban. Lalu zakat, syawalannya, juga dilaksanakan. Dan ini memang tidak mudah,” katanya. “

Idul fithri sendiri, ujarnya, tidak ditandai dengan hal-hal fisik atau ragawi, melainkan spiritual. Misalnya, id tidak identik dengan baju baru, melainkan ketaatan terus merangkak naik menuju puncak spiritualitas. Pengabdiannya pada Allah kian tulus tanpa batas. Efek sosialnya kian menampak di tengah masyarakat, dan seterusnya.

“Semoga kita semua termasuk golongan yang benar-benar imanan wa ihtisaban, dan mendapat peningkatan pengabdian pada-Nya, sehingga klaim kembali menjadi bayi benar adanya,” ujarnya berharap. “Makanya setelah puasa, ibadah kita harus ditingkatkan, biar tidak hanya mengandalkan puasa dan zakat saja. Jadikan seluruh ibadah kita sebagai andalan,” imbuhnya.

Halal bi halal pun ditutup dengan bersalam-salaman. Satu-persatu santri menjabat tangan guru dan rekan santri lainnya. Insya Allah dosa-dosapun dilebur. Lantunan Allahammu shalli ala Muhammad mengiringi.[enha]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP