Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Empat Syarat Menjadi Santri Beruntung*

Senin, 12 September 2011

Oleh KH. Achmad Syatibi Hambali
(Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah)

Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Para pengelola, dewan guru, dan anak-anakku santri yang saya banggakan. Puji syukur kita panjatkan pada Allah SWT atas karunia rahmat-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan untuk Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, shahabat, dan kita sebagai pengikutnya.

Anak-anakku santriawan dan santriawati yang berbahagia. Kita telah kembali dari libur panjang Idul Fithri 1432 H. Kira-kira selama 20 hari kita di rumah. Ke depan, selama tiga bulan, tidak ada lagi perijinan pulang, karena liburnya sudah cukup lama. Masak mau libur lagi? Kalau pulang lagi, ya waktu kita habis di jalan. Lantas kapan belajarnya? Karena rekreasi, ziarah, dan liburan sudah kita lalui semua, kini saatnya kita kembali belajar seperti biasanya.

Kita sudah kenyang bermain-main di rumah. Gegemblong sudah habis. Semur juga sudah tidak ada lagi. Sekarang, al-hamdulillah, kita telah sampai di pesantren tercinta ini lagi. Perlu diingat, ketika kita berada di pesantren, maka jangan sampai kita jadi orang atau santri yang merugi. Awas! Memangnya ada santri yang rugi? Banyak! Kalau di pesantren hanya tidur, makan, dan main, kita akan bangkrut. Karena itu saya harapkan, semuanya tidak menjadi santri yang rugi dan harus menjadi santri yang beruntung. Mau jadi santri yang berhasil? Ada empat syaratnya.

Pertama, kita harus percaya dan menaati peraturan pesantren. Juga menaati guru kita. Sebab, ketentuan pesantren itu bukan untuk asatidz atau asatidzah, tapi untuk kepentingan kita sebagai santri. Pesantren menyediakan peraturan, misalnya kita harus bangun subuh dan wajib shalat berjamaah, itu untuk kepentingan kita sendiri. Tidak boleh terlambat belajar dan harus berpakaian rapi, juga untuk kebaikan kita sendiri. Mudah-mudahan, kalau kita ikhlas mentaati peraturan yang ada, insya Allah kita akan berhasil.

Kedua, memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar. Jika datang ke pesantren al-hamdulillah tepat waktu, tapi ketika sekolah leat-leot atau loyo, tidak ada motivasi dan keinginan, lemah, tidak ada cita-cita, dan teu boga kahayang, maka jangan salah jika kita kelak akan merugi. Karenanya, kita harus kerja keras dalam mencari ilmu. Insya Allah kita akan beruntung. Tidak ada keberhasilan yang dicapai dengan leha-leha. Kalau saya dikatakan berhasil oleh kalian, saya bukan sombong, na’udzu billah, bukan berarti waktu kecil saya berpangku tangan. Saya sama seperti kalian meninggalkan rumah dan jauh dari orang tua.

Tahun 70, saya keluar SD, lalu digiring ayah dan ibu ke Baros Cangkudu. Karena saya anak satu-satunya, saya ingin menjadi orang yang berhasil dan berguna. Untuk itu, perintah orang tua saya taati. Saya masih ingat, pada 20 Syawal, saya diantar ayah dan ibu ke pesantren. Sampai lebaran haji saya dilarang pulang oleh guru, Alm Abuya Salam. Saya taati pesan itu, padahal orang tua saya kangen, karena anaknya cuma saya satu-satunya. Saya pun tidak pulang dan lebaran di sana. Habis lebaran, kedua orang tua datang menjenguk saya. Dan setelah itu, terus beberapa lama saya tidak pulang. Saya lalu ditinggal wafat ayah tahun 74. Yang ada hanya ibu saya. Harusnya saya berniat untuk nungguin ibu saja. Tapi saya malah mondok ke Sukabumi dan ibu saya tinggal sendirian di rumah. Kalian masih mending, ada adik-adik di rumah. Apa saya tidak kangen? Ya kangen, tapi saya harus taat pada orang tua dan tidak boleh durhaka. Orang tua ingin kita mondok, maka kita harus mondok dengan semangat dan belajar penuh motivasi. Tanpa motivasi, tidak akan ada hasilnya.

Dengan demikian, sesungguhnya semua ini proses mendewasaakan kita. Di pesantren, kita juga belajar mengatasi persoalan hidup. Inilah pembelajaran yang tidak didapat di tempat lain. Karenanya, kalau ingin berhasil, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak betah di pesantren. Di sini, banyak pelajaran lain yang harus ditimba. Misalnya soal sopan santun dalam berbahasa dan berperilaku. Kalau kita baik pada kawan-kawan, insya Allah kita akan mendapat kebaikan juga. Di pesantren, kita jangan menjadi orang yang membuat jera orang lain. Apalagi sampai merugikan mereka. Ada uang ngagoler (tergeletak), jangan diambil. Itu tidak boleh, karena merugikan orang lain. Kalau dilakukan, ini akan menjadi hambatan buat kita. Na’udzu billah min dzalik. Sekalipun kita tidak punya jajan, janganlah berniat mengambil milik orang lain sekecil apapun.

Di pesantren, hidup kita harus hati-hati dan terus bekerja keras. Kalau mencari uang saja bekerja keras, masak mencari ilmu tidak? Insya Allah, kalau punya ilmu, di manapun kita bisa hidup dan pasti bermanfaat bagi orang lain. Burung bisa terbang dengan sayapnya. Orang bisa hidup dengan ilmunya. Kalau tidak punya ilmu, kita akan menjadi sampah masyarakat. Carilah ilmu mumpung masih banyak kesempatan. Ilmu apa saja. Di sini kita bisa belajar Bahasa Arab, Bahasa Inggris, nahw, fikih, tauhid, dll. Yang penting kemauan dan motivasi kita.

Ketiga, saling mengingatkan satu sama lain. Kepada sesama teman, kita harus saling memberi manfaat. Kalau ada teman meninggalkan shalat, jangan ditemani, tapi kita tegur dan kita ingatkan. Kalau ada kawan kita yang belajarnya malas-malasan, harus kita tegur dan kita ingatkan. Kalau perlu, dengan ustadz kita juga sharing minta solusi jika ada persoalan. Dengan saya juga silahkan. Saya terbuka, sepanjang saya ada.

Keempat, memiliki kesabaran. al-Shabru miftahu kulli ma yurja’ wa kullu khairin bihi yakun. Sabar itu kunci untuk meraih cita-cita dan segala keberhaslan bisa didapat dengannya. Kita tidak punya uang wajar saja, karena di pesantren kita tidak mencari duit kok. Kita tidak punya jajan juga wajar, karena di sini kita tidak untuk jajan kok. Kita harus bersyukur, karena masih makan setiap pagi, siang, dan sore.

Kalau semua ini kita miliki, insya Allah kita akan menjadi manusia yang tidak merugi atau berhasil. Ilmu agamanya hasil dan ilmu dunianya hasil. Mudah-mudahan, dunia didapat dan akhiratpun diraih. Man arada al-dunya fa ‘alaihi bi al-‘ilmi wa man arada al-akhirata fa ‘alaihi bi al-‘ilmi wa man aradahuma fa ‘alaihi bi al-ilmi. Mau dapat dunia, harus pakai ilmu. Mau dapat akhirat, juga harus pakai ilmu. Dan mau dapat dua-duanya, juga harus pakai ilmu. Kalau mau dapat ilmu, ya jangan tidur bae. Tidur kita cukup dari jam 22.00 sampai jam 04.00. Enam jam sudah sangat cukup.

Setiap malam Ahad, kita belajar Ta’lim al-Muta’allim karya Syeikh al-Zarnuji, yang isinya tentang proses belajar ilmu. Di sana dikatakan, kalau hayang boga ilmu, jangan suka tidur, jangan suka makan enak, jangan males-malesan, dan sebagainya. Mudah-mudahan mulai besok, kita kembali belajar dengan semangat dan mudah-mudahan semangat kita lebih tinggi lagi dari sebelum Idul Fithri.

Soal kesabaran misalnya, banyak orang yang mencari ilmu sampai ke Australia. Pulang jadi menteri, dirjen, dll. Ada yang sampai Amerika, Mesir, Madinah, Arab Saudi, atau tempat lainnya. Ada juga yang ke Jerman atau Belanda. Mereka begitu belajarnya. Kita hanya di sini. Makanya wajar kalau mereka berhasil, karena biayanya luar biasa, pengorbanannya juga berat. Rumusnya adalah kesabaran. Tidak ada alasan kita tidak sabar dan tidak betah, karena kita dekat orang tua.

Insya Allah, besok mulai aktif lagi, baik sekolah maupun pengajian kitabnya. Karena itu, besok habis bangun, harus shalat shubuh berjamaah. Sekarang tidak ada alasan lagi tidak berjamaah, karena airnya mudah. Dulu ada alasan, sebab kadang-kadang airnya jauh dan jarang. Sekarang tinggal melangkah sedikit, air banyak. Dulu ambil air ke Pandeglang. Malam-malam seperti ini tidak ada air. Kita ambil air ke Pandeglang menggunakan lima motor. Saya kadang ikut. Berangkat jam 22.00 sampai di sana jam 02.00 malam. Sampai sini jam 10.00 pagi. Kadang air tidak sampai ke sini. Al-Hamdulillah kita bisa dan pada betah juga.

Karenanya saya harapkan, kita harus aktif dan sungguh-sungguh menjalankan kegiatan pesantren. Itulah syarat kesuksesan kita. Mudah-mudahan kita menjadi manusia yang berhasil dan berguna, al-Fatihah.

Itu saja barangkali sambutan saya. Dengan membaca bismillah, kegiatan di pesantren kita buka.

Wa Allah al-muwaffiq ila aqwami al-thariq. Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

*Sambutan Pengasuh disampaikan pada Malam Pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Sabtu, 10 September 2011, di Majelis Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.





0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009



  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP