Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Musim Kunut Tiba, Santri Kebanjiran Ketupat

Senin, 15 Agustus 2011

Setiap 15 Ramadhan, santri dan warga sekitar Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak, selalu mengadakan tradisi kunutan, yaitu membuat ketupat lengkap dengan sayur opor ayam. Tradisi ini, oleh masyarakat setempat juga disebut “banjir bandang”, karena air rebusan di dalam panci membanjiri pucuk janur kelapa ketika ditanak/direbus.

“Di sini sudah menjadi tradisi, jika kunutan masyarakat selalu membuat ketupat plus opor ayam. Ini ciri khas masyarakat Sunda yang sudah diwarisi secara turun temurun,” kata Ustadz Udong Khudori. “Mungkin tradisi ini tidak ada di belahan dunia lainnya,” imbuhnya.

Secara filosofi, ketupat itu kan dibuat dari daun pohon kelapa, yang bisa hidup di mana saja. Ia dibuat dengan rapat, sehingga beras di dalamnya tidak keluar, karena cangkang yang kokoh. Pada saat direbus beras pun akan menjadi nasi yang kenyal. Maknanya, kita harus bisa hidup di manapun layaknya pohon kelapa dan harus sekuat cangkang ketupat, sehingga keimanan yang ada dalam dada kita tidak keluar berserakan.

Selain itu, santri dan masyarakat bisa bersilaturahim dengan bertukar ketupat dan sayurnya. Baik antar santri, antar warga maupun antar kerabat. Yang mampu bisa berbagi dengan yang tidak punya, walaupun hanya dengan sebiji ketupat. Pada tanggal itu juga, biasanya diadakan ngeriung (tahlilan bersama) di masjid. “Ada yang diadakan sebelum tarawih dan ada yang sesudahnya. Kita memohon pada Allah supaya diberi keberkahan,” sambung Ustadz Agus Faiz Awaluddin.

Biasanya, pada hari ke-14 puasa, santri-santri belajar membuat cangkang ketupat. Bahkan sering kali mereka saling berlomba membuat cangkang ketupat. Siapa yang paling banyak menyelesaikan cangkang ketupat, maka dia akan mendapat hadiah makan ketupat sepuasnya.

Selain ketupat, kunutan juga diperkaya oleh lepet dan salimpe. “Sepertinya kunutan itu tidak bisa lepas dari kebiasaan yang turun-temurun. Masyarakat setempat biasanya berbuka dengan menu yang biasa-biasa saja. Tapi pada saat kunutan, mereka membuat menu yang lebih istimewa, seperti memasak sayur opor sebagai pasangan ketupat,” sambung Ustadz Agus.

Yang menyenangkan para santri, biasanya saat kunutan tiba, santri dibanjiri hadiah ketupat, lepet dan salimpe. “Mereka dikirimi oleh orang tua atau keluarganya. Minimal sekantung plastik. Subhanllah, berkah sekali kalau musim kunutan, karena berbuka dan sahur makan ketupat sayur opor ayam. Enak sekali euy,” ujar seorang santri.

Entah kenapa, kunutan ini dilakukan pada pertengahan puasa. Yang pasti, biasanya setelah kunutan, puasa akan terasa lebih cepat dan tak terasa Idul Fitri segera tiba.[dmg]



0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP