Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Dialog Imajiner dengan Iblis II
"MENANYAKAN GODAAN IBLIS"

Rabu, 03 Agustus 2011

Oleh Ahmad Dimyati*

Dialog ini berkisah seputar pertemuan santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Ahmad Dimyati (AD), dengan raja diraja kejahatan Iblis (Ib), di suatu tempat rahasia. Pada pertemuan yang tak terencanakan itu, dialog menarik terjadi diantara mereka. AD yang telah mengenal sosok Iblis melalui berbagai informasi, menyapanya terlebih dahulu.

AD : Hei Tuan Iblis, bolehkah aku berkenalan denganmu?
Ib : Hei juga, musuhku. Boleh…boleh saja, silahkan!
AD : Namaku Ahmad Dimyati, santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Jika tak keberatan, Tuan, aku ingin berbincang denganmu, walau sebentar. Bolehkan, wahai Tuan?
Ib : O….iya, ya…boleh saja. Apa gerangan yang hendak engkau sampaikan?
AD : Tapi, mohon Tuan jangan marah ya?
Ib : Oh tentu, saya nggak akan marah.
AD : Terima kasih, Tuan. Begini Tuan, aku mau nanya, kenapa sih tuan mengganggu orang-orang yang berbuat baik saja? Tidak adakah pekerjaan lain yang lebih mulia? Padahal, andaikan Tuan tidak ada, aku akan tenang beribadah. Dan kenapa juga Tuan tidak mengganggu malaikat?
Ib : Ya..ya…Aku paham pertanyaanmu. Perlu engkau tahu, itu sudah menjadi kewajibanku untuk mengganggumu. Karena kamu itu orang yang gampang dirayu dan imanmu lemah. Harusnya, kamu bersyukur padaku. Andaikan tidak ada aku, kamu pasti tidak akan berusaha menjadi lebih baik dan tidak ada rintangan bagimu, dan kamu dengan yang lain derajatnya pasti sama. Tak ada yang lebih baik diantara satu dengan yang lain. Bukan hanya sama dengan teman kamu, tapi dengan Rasulmu juga akan sama. Sama-sama, semuanya jadi Rasul.
Dan kalau aku mengganggu malaikat, aku akan kewalahan sendiri, karena mereka sudah istikomah dengan amaliahnya. Buktinya, Malaikat Jibril sudah istikomah melaksanakan tugasnya sebagai penyampai wahyu kepada Nabi Muhammad dan Rasul lainnya. Malaikat yang lain juga terus bertasbih, bersujud, ruku', tanpa henti secara istikomah. Mereka juga tidak punya nafsu apapun selain ibadah. Buat apa aku mengganggu mereka, kalau tak akan tergoyahkan?
AD : Oh, begitu ya? Menurutku, imanku lemah itu karena gangguan-gangguan Tuan. Bahkan ketika aku mau bertemu kekasihku, Allah, Tuan juga yang menghalanginya. Andaikan tiada Tuan, niscaya imanku kuat dan pasti harapanku tercapai. Tuan, beritahukan kepadaku, siapa sesungguhnya yang suka mengganggu shalatku?
Ib : Engkau mau tahu siapa yang mengganggu shalatmu? Dia prajuritku, namanya Khanzab. Dia aku tugaskan khusus untuk mengganggu manusia yang sedang shalat.
AD : Lalu, siapa yang mengganggu aku ketika sedang berwudhu, tidur atau makan? Siapa dia?
Ib : Yang mengganggu tidurmu itu namanya Wasnan. Dan yang mengganggumu ketika berwudhu namanya Walhan. Sedang yang menggodamu dalam hal makanan, itu namanya Dasim. Bahkan ada juga yang tugas khususnya menggoda ahli ibadah atau wali-wali Allah. Namanya Abyad.
AD : Jadi itu nama-namanya. Tuan, tolong bilang kepada mereka, kalau mengganggu aku, jangan berlebihan. Yang biasa-biasa saja ya!
Ib : Tenang saja. Jangan kuatir, ntar malah aku ganggu kamu dengan gangguan yang berat lho.
AD : Kok Tuan begitu sih?
Ib : Kan, kalau cobaan kamu ringan, nanti hidupmu akan biasa-biasa saja. Sebaliknya, kalau cobaanmu berat, nanti hidupmu jadi kuat dan kamu jadi orang besar di hadapan Allah. Itupun dengan syarat, kalau kamu kuat menghadapinya.
AD : Ya sudah, boleh lah Tuan mengganggu aku seberat mungkin. Semoga aku bisa jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Ib : Apa lagi yang ingin kamu sampaikan?
AD : Mungkin itu dulu, Tuan. Mudah-mudahan lain kali Tuan masih bersedia melanjutkan obrolan seperti ini denganku.
Ib : Baik! Jangan lengah, godaanku akan datang setiap waktu.
AD : Terima kasih, Tuan.[]

Cikulur, 27 Maret 2011

*Ahmad Dimyati, adalah santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah asal Cilutung Lebak, Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah.



0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP