Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Dialog Imajiner dengan Iblis
"MENGISLAMKAN IBLIS"

Jumat, 29 Juli 2011

Oleh Nurul H. Maarif

Semua orang tahu, Iblis adalah mbah-mbah-nya keingkaran pada Allah. Dialah sumber segala kejahatan di alam raya ini. Bagaimana Iblis (IB) didakwahi dan diislamkan? Itulah yang dilakukan Nurul H. Maarif (NHM), santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah, ketika menjumpainya secara imajiner di kerajaannya yang megah. Saat itu, musuh orang beriman itu tampak semakin renta. Pakaiannya lusuh. Janggutnya putih terurai tiada terawat. Gurat-gurat mukanya kian keriput. Namun ketika berbicara perihal program pengafiran atau buku induk kekafirannya, ia begitu antusias mengulasnya. Semangatnya kembali muda.

NHM : Salam, wahai Tuan Iblis. Apa kabar Tuan?

IB : Baik-baik saja, seperti yang engkau lihat, wahai musuhku.

NHM : Tuan, engkau sudah setua umur alam raya ini. Bahkan lebih renta. Tiada kematian menimpamu. Padahal kami sudah hilir-mudik bergantian mengisi alam raya ini. Tuan, tidakkah lelah-letih atau sakit pernah menghinggapimu?

IB : Puji Tuhan, kerja kerasku tak pernah membuatku sakit. Tipes karena capek, mag karena kurang makan, atau penyakit apapun, tak pernah datang padaku. Inilah karunia-Nya, untuk menopang dan melancarkan tugasku yang maha berat.

NHM : Engkau meyakini itu karunia-Nya?

IB : Tentu saja. Aku juga "terlahir" dari-Nya.

NHM : Tuan, tidakkah rasa capek untuk menggoda anak cucu Adam hinggap di jiwamu?

IB : Capek? Tidak ada kata capek untuk menggoda anak Adam, karena inilah tugasku sebagai al-rajim (makhluk terkutuk). Al-Qur'an juga melarang kita putus asa, bukan? Inilah titah-Nya kepadaku yang harus aku jalani penuh keikhlasan dan keridhaan.

NHM : Engkau mengenal keikhlasan dan keridhaan juga, Tuan?

IB : Tentu saja. Kita ini sama-sama menjalani amanah-Nya, dengan cara yang berbeda tentunya.

NHM : Tuan, berapa anak Adam yang engkau targetkan masuk perangkapmu dan menjadi penyembahmu?

IB : Aku tak punya target khusus. Sebanyak-banyaknya, karena neraka cukup longgar untuk seluruh penghuni alam raya ini.

NHM : Tuan, adakah keinginan dalam lubuk hatimu tuk kembali menjadi sosok yang taat, seperti ketaatanmu sebelum Adam diciptakan?

IB : ????? (Iblis tampak merenung memikirkan jawabnya).

NHM : Apakah Tuan Iblis baik-baik saja?

IB : Ya, tentu saja, aku baik-baik saja sebagaimana engkau lihat. Tapi soal pertaubatan, itu tak mungkin terjadi. Karena itulah tugasku, hingga akhir dunia ini. Dan Tuhanpun telah mengijinkanku hidup selamanya untuk mengemban misi penyesatan ini dan untuk mengganggu sebanyak mungkin anak Adam.

NHM : Benarkah sama sekali Tuan tak terpikirkan untuk kembali menjalani ketaatan?

IB : Sejujurnya, dalam lubuk hatiku, aku juga ingin menjadi seperti malaikat, nabi atau orang saleh lainnya. Bahkan dulu, sebelum Adam diciptakan, aku orang yang lebih saleh dibanding malaikat. Tapi, itulah takdirku sebagai hamba yang tunduk pada titah-Nya.

NHM : Maksudmu apa Tuan? Itu takdir Tuan?

IB : Ya, inilah takdirku. Aku harus menjadi al-rajim (terkutuk) dengan tugas azali menggoda manusia. Aku harus siap dicela, dicaci dan dimaki oleh orang beragama di seluruh alam raya ini, termasuk dimusuhi santri-santri Pesantren Qothrotul Falah, karena tugas ini. Di kitab suci, kitab kuning, ceramah, dan di manapun, aku selalu menjadi musuh mereka. Tanpa keberadaanku, kitab suci, kitab kuning, dan ceramah itu akan kering kerontang tiada berisi nilai-nilai. Harus ada yang menjadi musuh kesucian. Aku hanya menjalani ketentuan-Nya saja.

NHM : Berarti Tuan lelah menjalani takdir ini dengan segala resiko kehinaannya?

IB : Mungkin iya. Tapi sebagai hamba-Nya, aku harus menjalani ketentuan azalinya ini dengan sebaik-baiknya. Inilah amanah-Nya padaku, yang harus aku tunaikan sebaik-baiknya, karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hari perhitungan.

NHM : Tuan, apa maksudmu dengan "ketentuan azali"nya?

IB : Coba engkau renungkan baik-baik, wahai santri Kiai Ibing. Sebelum aku diciptakan dari api, sebelum Adam dimunculkan, bukankah al-Qur'an yang kadim itu telah ada dan telah menceritakan tentang diriku yang terkutuk ini? Padahal, ketahuilah, aku belum diciptakan. Bagaimana menurutmu?

NHM : ????? Benar perkataanmu, Tuan. Jika itu yang dimaksud "ketentuan azali" Tuhan, itu memang benar adanya. Berarti, Tuan hanya menjalani ketentuan itu tanpa bisa membantah dan merobahnya?

IB : Benar belaka kata-katamu. Itu sebabnya, ketentuan azali itu harus aku jalani sebaik-baiknya. Biarlah aku rela menjadi petugas untuk amanah maha berat ini, dengan segala resiko kehinaannya. Belum tentu makhluk yang lain sanggup mengemban amanah ini.

NHM : Tuan menjalaninya dengan senang?

IB : Karena ini ketentuan azali dan titah-Nya, aku sebagai makhluk-Nya harus menerimanya dengan senang hati. Inilah cara beribadahku pada-Nya.

NHM : Sekali lagi aku Tanya padamu, Tuan. Tidakkah ada keinginanmu untuk menjadi muslim yang baik?

IB : Haa.. (Iblis tertawa menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang menyeramkan tanpa memberikan jawaban).

NHM : Tuan, apa maksud tertawamu? Sungguh Tuan tak ingin?

IB : Haa… (Iblis lagi-lagi tertawa tiada memberi jawaban).

NHM : Baik Tuan, jika itu keinginanmu. Tuan, jika boleh berharap, sesungguhnya aku ingin engkau menjadi taat kembali dan menjadi mukmin lagi. Tapi Tuan, apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah dengan ketentuan azali-Nya padamu?

IB : Wahai santri Kiai Ibing, kalaupun aku mau bertaubat, Tuhan tak mungkin mengabulkannya, karena itulah ketentuan-Nya atasku. Inilah tugasku. Dengan keberadaanku ini, semua orang berlomba menjadi yang terbaik. Keimanan kian kokoh. Ketauhidan tambah kuat. Tanpaku, kalian akan statis. Tak ada tantangan apapun. Namun semua ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar ikhlas menyembah-Nya. Bagi orang-orang bodoh, yang tidak tahu akhir kehidupan ini sesungguhnya, mereka akan semakin terperosok dalam lembah kehinaan. Inilah ujian kalian: mau mengikuti Rasul dengan memusuhiku atau mengikutiku dengan memusuhi Rasul? Kalian telah diberi akal dan ajaran untuk memilihnya. Tuhanpun telah menyiapkan reward (surga) and punishment (neraka).* Karena itu, ya, tergantung kalian mau selamat atau kiamat.

NHM : Tuan, dalam simpulanku, entahlah benar apa tidak, pertaubatan itu tidak mungkin terjadi?

IB : Tepat, jawabanmu.

NHM : Padahal Tuan, aku menemuimu dengan niatan ingin mendakwahimu dan mengajakmu kembali kepada ketaatan. Sukur-sukur Tuan mau menjadi santri di Pesantren Qothrotul Falah. Tapi jika itu ketentuan azali-Nya, aku tidak bisa berbuat apa-apa, Tuan. Aku hanya bisa mendoakanmu, Tuan, semoga tugasmu terlaksana dengan sebaik-baiknya dan Tuan senantiasa diberi-Nya kesehatan. Dan terima kasih Tuan, tugasmu membuat iman dan tauhidku semakin kuat.

IB : Terima kasih atas doamu. Semoga engkau tahu di mana aku menaruh perangkap-perangkapku, sehingga engkau bisa menghindarinya dan bisa selamat.

NHM : Baik, Tuan. Satu lagi Tuan, yang ingin aku tanyakan. Benarkah engkau memiliki Buku Petunjuk Kekafiran atau Juklak Kekafiran?

IB : Apa maksudmu?

NHM : Aku senantiasa membayangkankan, Tuan. Untuk menuju kebaikan dan meraih surga, kami diberi kitab pentunjuk berupa al-Qur'an. Apakah untuk menjalani kejahatan dan meraih neraka, juga ada kitab kekufuran yang menjadi pegangan wajibnya?

IB : Ya, ada. Aku sudah membuatnya.

NHM : Apa isinya, Tuan?

IB : Misalnya, jika engkau ingin mencuri secara aman, maka di sana ada langkah-langkah yang harus engkau lakukan. Kalau ingin zina yang aman, ada juga petunjuknya. Mabuk, korupsi, dan lainnya, semua telah ada petunjukknya di Buku Induk Kekafiran itu. Tinggal dijalani saja. Tapi tolong, jangan engkau ceritakan pada siapapun soal buku rahasia ini!

NHM : Berarti benar dugaanku, Tuan. Engkau punya buku induk kekafiran. Insya Allah Tuan, untuk menjaga amanahmu ini, aku tidak akan bercerita kepada siapapun.

IB : Bagus, dalam hal ini kamu mengikuti ucapanku. Ha…

NHM : Ah Tuan, amanah ini dari manapun datangnya, harus dijaga, termasuk darimu. Ngomong-ngomong, Tuan, tak jadi lah aku mengislamkanmu. Aku urungkan rencana berdialog denganmu tentang tauhid, nabi, surga-neraka, dll. Rupanya Tuan lebih paham tentang semua itu ketimbang aku, karena kedekatanmu pada-Nya. Engkau lebih baik menjadi seperti sekarang ini. Makasih, Tuan. Salam buat kawan-kawan di kerajaanmu.

Dialogpun terhenti, ketika azan Subuh dikumandangkan. Iblis buru-buru pergi menjalankan tugas wajibnya. Membaca dialognya ini, mungkin Iblis hanya tersenyum simpul.[]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP