Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Seri Kearifan Wong Cilik 6
ZAMAN SEKARANG KRISIS ETIKA

Rabu, 16 Februari 2011

Oleh Nurul H. Maarif*

Senin, 1 Februari 2011 lalu, saya, isteri dan si kecil, silaturahim ke Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, di Jl. Kaliurang Km. 12, Sleman Jogjakarta. Perjalanan dari Lebak Banten, kami jalani pada 27 Januari 2011, menggunakan jasa kereta api, menuju Pekalongan. Dari Pekalongan itulah, kami melanjutkan perjalanan ke Sunan Pandanaran.

Kala itu, perjalanan menuju Kota Pendidikan kami tempuh menggunakan travel, yang tak biasanya kami lakukan. Sesuai transaksi via telpon, dengan agen travel di Pekalongan, kami diminta menunggu di Pasar Subah. Beberapa jam kami menunggu, sekira pukul 10.30 WIB, travel KIA Travello yang akan mengangkut kami ke propinsi kesultanan itupun tiba.

Sesampai di lokasi penungguan kami, driver travel itu turun menghampiri kami dengan penuh keramahan. Jujur saja, bagi kami, ada kejanggalan yang kami lihat dari sosok driver yang satu ini. Tak seperti biasanya, dia mengenakan peci haji dan berjenggot panjang. Teroris? Ah, ini ngelantur. Teroris atau bukan, sama sekali tidak bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Inilah, barangkali, pengaruh media, yang membombardir pemahaman pembacanya dengan asumsi; peci-jenggot panjang = teroris.

Driver, yang berusia sekira 60 tahun asal Jetis Jogjakarta, ini sama sekali bukan teroris. Sebaliknya, dia pengecam aneka tindak kekerasan dan bahkan penyetuju kerukunan umat beragama. Obrolan demi obrolanpun berlangsung lancar sepanjang Pekalongan-Jogjakarta, yang ditempuh selama 6 jam, karena posisi duduk kami bersebelahan dengannya. Tema yang dominan saat itu, adalah akhlak. Maklum saja, driver ini ternyata santri sekaligus pengajar Estetika di sebuah pesantren tasawuf di Mojokerto Jawa Timur, sejak beberapa tahun silam sepeninggal isterinya. Sumber materinya tak lain pengalaman hidupnya bergaul dan bersentuhan dengan banyak orang.

Driver yang pernah menjadi pegawai Menparpostel sebelum dibubarkan Presiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ini tak dinyana ternyata juga pengamal tarekat Naqsabandiyah, di bawah bimbingan Musryid KH. Abdul Jalil Mustaqim – beliau belajar pada murid Kiai Abdul Jalil, tidak langsung kepada yang bersangkutan. Beliau juga rutin mengikuti haul (peringatan setahun meninggal) nya Kiai Abdul Jalil.

Menurut mantan asisten menteri Job Ave ini, ajaran tasawuf alias spiritualitas atau lebih luasnya estetika itulah yang penting dikedepankan. Beliau lantas mengritik kebanyakan anak muda di negeri ini yang tidak lagi mengindahkan estetika. Misalnya, cara mereka berkomunikasi dengan yang lebih tua, sudah tidak ada lagi anggah-ungguh (sopan santun). Kromo inggil, dalam istilah Jawa, sudah tidak lagi dipentingkan. Orang tua disamakan dengan sebayanya, sehingga jarak keengganan menjadi hilang. Ini baru satu dari sekian banyak tanda krisis moral itu.

Padahal Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan: bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak memahami kemuliaan yang lebih tua. Ini garis anggah-ungguh pergaulan antara yang muda dengan yang tua, yang sudah dicanangkan sejak zaman dini dan kini mulai pudar ditelan kemodernan zaman. Anggah-ungguh mungkin saja dinilai telah ketinggalan zaman dan menggambarkan kehidupan masyarakat primitif. Ini, tentu saja, anggapan yang tidak tepat, karena anggah-ungguh itu cerminan karakter manusia yang sesungguhnya.

Obrolan dengan Pak Haji yang terus istiqamah berdzikir sembari mengendalikan kendaraannya, ini masih terus berlanjut. Beliau lantas berbicara perihal dzikir kepada Allah SWT. Menurut pria empat putera dan kakek lima anak ini, dzikir tidak mesti menggunakan perangkat semisal tasbih, pelafalan, dan material sejenisnya. “Dengan ngobrol-pun kita tetap berdzikir, karena dzikir itu tempatnya di hati,” katanya. Inilah yang menjadikan hati sejuk. Bukankah dengan berdzikir pada Allah, maka tathmainnu al-qulub (hati menjadi damai)? Inilah pesan al-Qur’an, yang kembali diingatkan olehnya.

Di tengah asyiknya ngobrol, perjalanan kami yang melewati jalur alternatif ini ternyata telah sampai Ngadirejo Magelang, sekira pukul 13.00. Perjalanan kami terhenti di Rumah Makan Niki, untuk sekedar mengganjal perut yang mulai keroncongan. Ini sebentuk kerjasama antara pihak travel dengan rumah makan, dengan kompensasi tertentu bagi driver. Di tempat yang asri ini, ada kolam ikan, beberapa kelinci, kami shalat dhuhur berjamaah. Pengamal tarekat itu menjadi imam bagi kami. Ini pengalaman yang jarang; karena biasanya antara driver dan penumpangnya ya masing-masing saja.

Usai menjalankan kewajiban kedua sebagai pemeluk Islam, perjalanan dilanjutkan diiringi langit yang kian mendung. Hujanpun sesekali turun tidak teratur. Terus berjalan, kamipun tiba di Kali Putih Muntilan Magelang, jalur utama lahar dingin Merapi. Tepat di atas jembatan Kali Putih, hujan turun sangat lebat. Ditambah kondisi lalu lintas yang macet, akibat material Merapi yang menumpuk di kanan kiri jalan, suasana menjadi kian mencekam, karena lahar dingin itu sewaktu-waktu bisa datang mengancam. Lahar ini konon baru akan habis dalam rentang waktu sepuluh tahunan. Kepasrahanpun menjadi kunci ketenangan kala itu.

Biasanya, kami hanya mendengar informasi Merapi dan sejuta ancamannya itu dari media, baik televisi maupun koran. Tapi hari itu, kami langsung melihatnya di lokasi. Pasir dengan ketinggian dua meteran tampak di sekitar Kali Putih. Pasar, rumah, gedung-gedung lainnya hancur diterjang pasir dan bebatuan besar. Tak sedikit yang juga tertimbun pasir. Aktivitas perekonomian lumpuh, kecuali beberapa pekerja dadakan jasa pengangkutan pasir.

Inilah setitik pertunjukan kekuasaan Tuhan – yang mengandung dualisme makna, berkah sekaligus musibah – bagi umat ini. Satu gunung yang bergeliat saja, ribuan, bahkan ratusan ribu orang panik dan ketakutan. Kejiwaan anak-anak terganggu. Ratusan bahkan meninggal dunia. Ribuan sapi tewas. Kerugian material lebih dari Rp. 5 triliun. Pembenahan atau rehabilitasipun, baik pada aspek fisik maupun psikis, menelan dana besar dan waktu panjang.

Kami lantas tersadarkan pada ayat idza waqa’at al-waqiah (ketika kiamat datang). Bukan satu gunung, tapi ribuan gunung berguncang. Lautan meluap. Kekacauan terjadi di mana-mana. Ketakutan melanda siapa saja, hatta ibu hamil tidak sadar melahirkan janinnya. Inilah kehancuran yang menjadi penanda berakhirnya kisah perjalanan dunia ini. Na’udzu billah min dzalik. Setelahnya, seluruh manusia dimintai pertanggungjawaban atas amalnya di dunia ini. Yang lulus, mendapat reward dan yang gagal meraih punishment.

Khayalan kami pada situasi masa depan itu, harus kami hentikan, karena perjalanan telah kian mendekati tujuan. Sekira pukul 16.00, kendaraan kami sampai di lokasi, dan kami penumpang pertama yang dihantar ke tujuan. Barang-barang bawaan lantas kami turunkan, sembari tak lupa menyalami driver yang senantiasa pasrah pada-Nya ini, sebagai penanda pamitan. Tak lupa, kami menanyatakan nama beliau untuk kian mengakrabkan. “Saya Widi,” jawabnya sembari melanjutkan tugas mulianya itu.[]

Lebak, 14 Februari 2011
Pukul 05.59

0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP