Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

SAMBUT TAHUN BARU ISLAM 1432 H,
SANTRI QOTHROTUL FALAH GELAR DO’A BERSAMA

Minggu, 12 Desember 2010

Tahun Baru Islam, kini telah memasuki angka 1432 H, bertepatan Senin, 6 Desember 2010. Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, baik putera maupun puteri, tak mau melewatkan momen dalam sejarah Islam ini. Momen, yang oleh Muhammad Husain Haikal, disebut sebagai “pembuka pintu baru dalam kehidupan politik.”

Kegiatan untuk menyambutnya pun diselenggarkan, termasuk diantaranya Refleksi dan Do’a Bersama Tahun Baru Islam 1432 H. Sore itu, usai menjalankan Ujian Akhir Smester (UAS) Ganjil MTs/SMA Qothrotul Falah Tahun Pelajaran 2010/2011, para santri dan dewan guru berkumpul di Majlis Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Tampak hadir Ustadz Abdurrahman, Ustadz Agus Faiz Awaluddin, Ustadz Dedi Hudaidi, juga Ustadz Amrullah Ahmad.

Mereka ingin merasakan detik-detik pergantian tahun, yang terjadinya sekira matahari terbenam (berbeda dengan penanggalan Gregorian yang pergantian tahunnya dimulai dini hari) itu, dengan kegiatan positif. Tentu saja, tidak ada suara peniupan terompet atau nyanyian happy new year. Yang ada hanya refleksi makna hijrah dan doa bersama.

Didaulat sebagai perefleksi, adalah Nurul H. Maarif, Pengelola Pondok Baca Qi Falah. Dalam refleksi singkatnya bertitel Kemanusiaan Berbasis Tauhid, Nurul menyatakan, peristiwa dan mutiara hijrah Nabi Muhammad tak pernah mati, hingga hancurnya dunia ini. “Kata Nabi SAW, hijrah tak pernah berhenti, hingga berhentinya taubat. Taubatpun tak pernah berhenti, hingga matahari terbit dari barat. Ini berarti, hijrah tak pernah usai,” ujar ayah Nilna Dina Hanifa, ini.

Ibarat mutiara, peristiwa hijrah senantiasa memunculkan makna baru sesuai situasi dan kondisi. Ibarat samudera, air hijrah tak kan habis ditimba musafir-musafir yang kehausan. “Siapapun punya pandangan dan perspektif sendiri perihal mutiara hijrah, bahkan yang nonmuslim sekalipun,” katanya.

Baginya sendiri, hijrah melambangkan dua momen yang penting; momen spiritualisme sekaligus humanisme. Ini disimbolkan dengan peralihan dari bumi Makkah ke Madinah. “Makkah itu bumi spiritualisme dan Madinah itu bumi humanisme. Di Makkah, semata ajaran ketauhidan yang ditanamkan. Namun di Madinah, ajaran humanisme yang lebih ditonjolkan. Ini, diantaranya, karena kondisi masyarakat yang dihadapi berbeda. Di Makkah relatif homogen dan di Madinah heterogen,” ujarnya.

Yang penting diingat, secara historis, Nabi Muhammad SAW lebih dahulu menempati Bumi Spiritual Makkah lalu menuju Bumi Kemanusiaan Madinah, bukan sebaliknya. Artinya, spiritualitas seharusnya dimatangkan dulu dalam waktu yang lama, lantas menuju wilayah kemanusiaan. “Biar pandangan kemanusiaan itu menyeluruh, karena dilihat dari “ketinggian”. Dengan demikian, akan tercipta sisi-sisi kemanusiaan yang kokoh, karena dipondasi ketauhidan yang kokoh pula,” ujarnya.

Ia berharap, dua simbol hijrah itu menyatu padu dalam diri para santri. “Semoga saja, dalam diri kita terkumpul dua semangat itu: semangat spiritualisme Makkah dan humanisme Madinah. Ini akan menjadikan kita khalifah Allah yang ideal,” harapnya. “Ini tidak gampang,” sambuungnya mewanti-wanti.

Usai refleksi singkat itu, acara dilanjutkan pembacaan istighatsah dan doa awal-akhir tahun. Ustadz Gaban – panggilan Abdurrahman – menjadi pemimpinnya. Diiringi kucuran hujan, panjatan doa kian khusyuk dan khidmat. Ustadz Dedi lantas menutup istighatsah dengan doa dan dipungkasi shalat Maghrib berjamaah. Semoga tahun ini kian berkah. Amin! [nhm]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP