Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

HUT PGRI Ke-39,
SEHARUSNYA LELAKU GURU MENCERMINKAN 99 NAMA ALLAH

Senin, 29 November 2010

Pagi itu, Kamis (25/11/2010), tampak pemandangan tak seperti biasanya. Sekira pukul 07.00, guru-guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah mulai berdatangan dan khidmat berkumpul di lapangan upacara. Seragam batik merah dan peci hitam (untuk laki-laki) melengkapi ketidakbiasaan itu. Apa gerangan yang tengah dilakukan?

Para guru itu, ternyata tengah bersiap-siap menyelenggarakan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-39. Sebagai bagian dari korp guru, Persatuan Guru Republik Qothrotul Falah (PGRQ) pun tak mau ketinggalan turut meramaikan ritual tahunan ini.

Tepat pukul 07.15, ritual upacara hari guru ini dimulai. Seluruh perangkatnya dari unsur guru. Sedang pesertanya siswa-siswi MTs dan SMA Qothrotul Falah. Upacara yang tak lumrah ini, dipimpin oleh Ustadz Ahmad Amrullah. Dengan suaranya yang lantang bak auman singa Padang Pasir, ia terlihat bagaikan jenderal memimpin pasukan perangnya. Inilah tanda kesemangatannya pagi itu.

Bertindak sebagai pengibar bendera, Ustadz Agus Faiz Awaludin (komandan), Ustadz Abdurrahman (pembawa bendera) dan Ustadz Ahmad Turmudzi (anggota). Ketiganya, tak canggung dan kompak mengibarkannya, kendati tanpa gladi resik terlebih dahulu. Ini barangkali karena jiwa mereka telah menyatu dengan filosofi bendera dan upacara, sebagai simbol nasionalismenya yang mendalam.

Ustadzah Evi Yulatifah alias Syala, didaulat sebagai pembaca Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Suaranya yang merdu mendayu, menghantarkan pasal-pasal dan ayat-ayat UUD 45 itu menyelam menusuki kalbu hadirin. Suasana kian lengkap dengan Ustadz Ahmad Slamet, bertugas sebagai penghantar Pancasila. Di pojok lain, Ustadzah Mulyanis berdiri kokoh mengawal Pasukan Obade.

Ustadz Udong Khudori, sesepuh para guru, didaulat membacakan doa dan Ustadz Dedi Hudaidi sebagai pembawa acaranya. Tak mau ketinggalan, Kepala MTs Qothrotul Falah Tanto Haryanto, S.Si. mengambil posisi sebagai tukang lapor pada Pembina Upacara. Selain itu, tampak hadir pula Pak Aming, M.M.Pd., Ustadzah Nur Jannah, Ustadzah Bunda, Ustadzah Aat, Ustadzah Idoh, dan Pak Nurhasan yang sibuk mengintip handy cam dan kameranya.

Sedangkan Pembina Upacara, diamanahkan pada Kepala SMA Qothrotul Falah, Nurul H. Maarif. Dalam sambutan singkatnya, ia menyatakan, mengajar itu “profesi” Allah SWT. Dalam banyak ayat al-Qu’ran diterangkan, bahwa Allah SWT juga mengajar: mengajari Adam asma-asma Allah (Qs. al-Baqarah: 31), tiada pengetahuan melainkan yang Allah ajarkan (Qs. al-Baqarah: 32), mengajari manusia dengan qalam dan mengajarinya apa-apa yang tidak ditetahui (Qs. al-Alaq: 4-5), dan masih banyak lagi.

“Ayat-ayat ini menunjukkan, Allah SWT juga “pengajar” layaknya seorang guru. Dialah Maha Guru sesungguhnya; Guru yang tidak pernah berguru (belajar). Karena itu, guru adalah profesi ketuhanan yang harus dimuliakan, kendati guru hanya mengajari satu huruf kepada kita,” ujar pengelola Pondok Baca Qi Falah itu.

Seorang guru, sebagai cermin profesi ketuhanannya, untuk itu harus mencerminkan 99 nama-Nya dalam proses pengajarannya. Allah itu Penyayang, maka guru harus penyayang pada siswanya. Tidak pilih kasih dan tidak membeda-bedakan berdasar seleranya. Allah itu Pengampun, maka gurupun harus bertoleransi pada siswa. Allah juga Tagas, maka gurupun harus tegas pada pelanggaran siswanya.

Allah itu Adil, memiliki Kemuliaan, Luas, Lembut, Bijaksana, dan sebagainya, maka gurupun harus mencerminkan sifat-sifat Allah itu sebagai Maha Gurunya. “Jika guru bisa merefleksikan 99 sifat Allah (al-asma al-husna) itu, maka ia-lah teladan sejati. Itulah guru yang digugu dan ditiru, cerminan khalifah Allah yang semua siswa harus tunduk patuh padanya untuk menghormati ilmu dan sifat-sifat Allah yang ada dalam dirinya. Inilah guru sesungguhnya,” ujar Nurul.

Kata Nurul, sebaliknya jika guru tidak mencerminkan sifat-sifat Allah SWT itu, maka dia telah keluar dari garis orbitnya. “Sejak saat itulah, guru tidak lagi bisa dan layak diteladani oleh siswanya. Semoga saja, guru-guru yang ada, terutama di pesantren ini, bisa merefleksikan sifat-sifat Allah itu. Ini memang tugas yang tidak mudah dan inilah makna penting HUT PGRI ke-39,” pungkasnya.[nhm]


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP