Baca! Baca! Baca! Lalu, jadilah Anda orang yang berperadaban!

Nobar Final Liga Champion
Pendukung Munchen Kecut

Minggu, 23 Mei 2010

Sebagai baktinya pada umat, Pondok Baca Qi Falah menyelenggarakan nonton bareng (nobar) Final Liga Champion 2010 yang mempertemukan Bayern Munchen (Jerman) vs Internazionale Milan (Italia), Ahad (23/5/2010) dini hari. Nobar yang dihelat di lapangan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten melalui media infokus dan layar lebar ini ramai riuh dihadiri para ustadz dan santri gibol (gila bola).


Tampak misalnya, Kepala MTs Qothrotul Falah Tanto Haryanto S.Si., Wakil Kepala Bidang Kesiswaan Ahmad Amrullah, Kepala SMA Qothrotul Falah Nurul H. Maarif, Mantan Ketua Pondok Baca Qi Falah Agus Faiz Awaluddin, para pengurus dan banyak santri lainngta. Merekapun terkotak menjadi pendukung Munchen dan Inter.

Diantara yang kukuh dan hidup mati mendukung pasukan Louis van Gaal, adalah Pak Tanto dan Pak Amru. Sedang Nurul HM dan Agus Faiz, lebih menjagokan pasukan Jose Morinho. Di awal nonton, para pendukung Mark van Boomel itu tampak antusias, karena penguasaan jalannya pertandingan tidak berimbang: 63 % : 37 %. Wajar jika harapan kemenangan muncul dari kubu pendukung Pasukan Panser.

Namun pendukung Inter yang kalem-kalem, yakin bahwa bola itu bundar dan takdir Tuhan yang tak terduga acap terjadi di ajang ini. Penguasaan bola yang dominan tak menjamin kemenangan. Benar belaka kata Boomel, tim yang hebat belum tentu menang, namun tim yang efekktif akan menjadi juara. Terbukti, di tengah gempuran serangan bertubi itu, pada menit ke 35 melalui serangan balik, Diego Milito berhasil menjebol gawang Munchen. Kedudukan 1 : 0 untuk Inter. Pak Tanto dan Pak Amru pun tampak kecut dan wajahnya memelas sekali. Raut kekecewaan tampak nyata dari wajahnya.

Lagi-lagi Milito bikin sial pendukung Munchen. Pada menit ke 70, artinya 35 menit setelah gol pertama, mantan pemain Real Zaragoza ini menceploskan gol untuk kedua kalinya. Ketika itu pulalah, raut muka Pak Tanto dan Pak Amru, dan santri pendukung Panser, kian suram saja, laksana lampu yang nyaris putus wattnya. Untung, kesuraman itu tertolong oleh gelapnya malam dan jeritan perih hati mereka tertutupi oleh rintik hujan. Andaikan saja ada 35 menit ketiga, bisa jadi Milito melesakkan gol ketiganya. Untung saja itu tak ada.

Usai pertandingan, Pak Tanto dan Pak Amru tiada kuasa menghidupkan HP-nya. Kuatir banyak sms liar yang menertawakan kekecutan mereka. Haa..haa…Kasian deh beliau-beliau itu. Semoga keesokan harinya mereka masih bisa makan enak. Hidup Inter, yang sudah hampir setengah abad haus gelar Liga Champion. Yang pasti, kalah menang soal biasa: yang menang gembira kayak Nurul HM dan Pak Agus, yang kalah kecut bin kecit bin kicut kayak Pak Tanto dan Pak Amru. Ihik…ihik… (nhm)


0 komentar:


Bulletin Qi Falah edisi 06/1/2009

  © Blogger template Newspaper by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP